Showing posts with label pesan kecil. Show all posts
Showing posts with label pesan kecil. Show all posts

LIMIT



Kilas balik masa lalu di sebuah sisi yang berbeda, bergeming. Musabab yang membawa akibat hingga hari ini. Saat kisah persahabatan lama sudah terbilang cukup usang untuk sementara waktu. Sebuah jalinan tali baru kembali mengait dan menyatakan bahwa...kami bukan sahabat, bukan juga keluarga, tidak juga cukup hanya dibilang seperti itu, bukan hanya sekedar itu. Tanpa sadar, ini akan menjadi benang merah yang sama. Benang merah milik saya dan juga benang merah milik mereka.

Kisah yang terlewati bisa saja berbeda, namun seluruh maknanya akan tetap sama. Berisi semua panduan hidup yang pernah Nabi tuliskan sebelumnya, seorang penyair tertiada tara tandingannya bagi saya. Jika kini, pengentahan sering terdengar akan kitabnya, lihat saja sesungguhnya itu tidak akan pernah terbantahkan. Karena tulisan itu, dalam setiap kitab yang kalian yakini itu adalah AKU, KAMU, KAMI, dan segala bentuk ke-aku-an yang terendam namun belum terselami. Ya..itu AKU..itu KAMU...itu benar-benar AKU...benar KAMI adanya. 

Orang menyeberangi dunia satu ke dunia lain, dari tanah airnya menuju tanah air orang lain dengan harapnya menjadi lebih baik. Membuka pintu satu dan menutup pintu lainnya. Perjalanan ke masa depan itu ya, bisa saya maklumi tapi perjalanan ke masa lalu, sepertinya ya masih belum bisa saya terima. Jika ada mesin waktu, apa mungkin mengubah masa lalu bisa mengubah masa depan. Bukankah hanya ada penyesalan saja?!

Sampai pada batasan diri. Jika disadari, apakah batasan diri itu ada? Batasan tubuh, ya. Saya pikir Tuhan memberikan kebebasan tak terbatas pada manusia. Waktu dan tubuh lah yang menjadi batas secara kasat mata. Seseorang dalam hidupnya memiliki pencapaian, cita dan dipecah lagi menjadi target. Pada awalnya, menurut mereka target adalah sebuah limit. Begitu banyak percobaan yang dilakukan untuk sampai, hingga akhirnya Tuhan menuntun pada sebuah titik diri ini untuk memilih. Saat memilih untuk menghancurkan block yang ada pada pikiran kita pun akan sampai lagi pada pencapaian selanjutnya. Dan saat itu lah kita berkata "I did break the limit". Untuk sampai ke pencapaian selanjutnya, ada session of grace test, di mana itu adalah sesi untuk kita memilih kembali. Ingat atau "melupakannya". Jika kita berhasil mengingatnya, kembali lagi kita akan memecahkan sesuatu yang sebelumnya kita kenal sebagai sebuah limit. Lalu jika disadari kembali, berapa banyak hal yang menurut kita sebelumnya adalah limit, ternyata itu bukan limit. Hingga akhirnya tua dan mati, itu kembali menjadi pilihan dan kita mengenalnya sebagai LIMIT. Lalu.............................................................................. ~~~~
Kita ini tidak berbatas. Tuhan. Terima kasih.



Regards,
ailupika
Jika benar para leluhur pernah hidup sampai ratusan tahun. Betapa entah beruntung atau tidaknya mereka itu. Alangkah banyak limit yang mereka hancurkan. Semoga mereka bahagia dan menyadari.




[ Read More ]

{ }


Benar saja apa-apa yang pernah kita perbincangkan, bahwa dunia ini terlalu indah untuk dinikmati. Bahwa hidup ini terlalu biasa dan pendek untuk semua hal yang menjadi harapan.

Mungkin ini rasanya jadi malaikat atau inilah yang dinamakan kematian dan kita di dalam surga?

Apa pun yang kalian katakan, pikiran ini sudah tidak merasakan apa pun. Hanya tetap berjalan beriringan dengan apa yang sudah terpetakan. Kecuali hati yang menggerakan, semua yang menjadi kemauan atau pun bukan sudah menjadi rencana yang tak tersadari telah terpetakan sejak dahulu.

[ Read More ]

Pikiran, Sang Penipu Ulung


Ini gue ambil dari milis di yahoo,,menurut gue tulisannya bagus,,so gue share di sini yooo...

*"Kuperintahkan Kau Untuk Berhenti Berpikirrrr. ...!"
*oleh Made Teddy Artiana
penulis & fotografer

Sebagian orang ketika mendengar atau membaca kalimat diatas langsung berkomentar “Seperti pernah dengar, dimana ya ?”. Sekedar membantu ingatan Anda, saya akan lengkapi kalimat diatas.

“Kuperintahkan kau untuk berhenti berpikir ! Sebab kalau kau berpikir, aku ikut-ikutan berpikirrrr !!”

Bagi mereka yang masih belum dapat mengingat, berikut clue tambahannya. Perintah aneh bin menggelikan diatas diteriakkan oleh seorang jendral –dengan aksen Batak yang kental- kepada bawahannya, lantaran anak buah nya itu saking terbiasa berpikir strategis, sampai-sampai kebiasaannya itu mengusik Sang Jendral.

Anda benar ! Bawahan itu bernama Lukman, sementara Sang Jendral adalah Bang Naga alias Nagabonar.

Adegan unik dalam film klasik Nagabonar ini tidak saja lucu, tapi cukup konyol jika sungguh-sungguh dipraktekkan. Bayangkan : manusia tanpa pikiran apapun diotaknya !

Namun tentunya bukan itu yang dimaksud oleh kalimat yang sebenarnya sarat pesan mendalam tersebut. Bagiku pribadi, yang ingin disampaikan adalah betapa penting kendali pada sebuah kebiasaan yang kadang sangat membantu namun, kadang justru menjerumuskan. Kebiasaan itu adalah : ber-pi-kir.

Serupa tapi tak sama dengan adegan diatas. Andri -bukan nama sebenarnya- adalah salah seorang team leader di wedding organizer yang dikomandoi Wida, istriku, pernah bernasib sama dengan Lukman. Hanya saja tentu bukan Nagabonar yang menyemprotnya, melainkan aku. Betapa tidak, Andri sebenarnya adalah anak muda yag cerdas, banyak sekali hal-hal yang tidak terpikirkan oleh kami namun dapat dideskripsikan dengan lancar olehnya. Parahnya, hanya 20% saja ide yang bernada positif, yang 80% sisanya adalah kecemasan-kecemasan yang bisa saja terjadi dilapangan. “Kalau begini bagaimana ?” atau “Kalau misalnya terjadi anu ?” dan lain sebagainya. Andri spesialis dalam hal itu. Sebenarnya dalam beberapa hal, “keahlian” Andri sangat berguna, karena bagaimanapun antisipasi tentunya sangat dibutuhkan. Namun demikian ketika bersentuhan dengan pisau analistis Andri, sebuah ide se-briliant apapun dalam beberapa menit segera berubah jadi gagasan tolol yang mustahil dilaksanakan. Ini lantaran ide briliant tadi telah dihujani oleh puluhan keruwetan yang telah beranak pinak dikepala Andri. Ketrampilan unik yang mirip dengan pedang mata dua miliknya ini, sungguh-sungguh harus dikendalikan !

Dulu, ketika berkesempatan menggarap proyek buku yang ditulis Bob Sadino, kami sempat berbincang-bincang serius tentang mengapa “orang bodoh” lebih cepat sukses dibanding “orang pandai”. Waktu itu Om Bob “Goblok” Sadino sempat berkelakar : “Orang-orang pintar itu, kadang karena terlalu terbiasa mikir, akhirnya nggak jalan-jalan. Tapi orang bodoh, karena memang sedikit yang dipikirkan ya segera memulai saja. Gimana nati aja deh, kata mereka. Akhirnya orang-orang bodoh itupun sukses. Karena persiapan yang sejati bukan saja dibangun diawal, tetapi justru persiapan sejati itu dibangun ketika kita berani melangkah”

Beberapa orang teman pengusaha dan top manager yang begitu sukses, memberikan tips sederhana berikut untuk kehidupan yang lebih berhasil, yaitu : kendalikan pikiran kita sehingga tetap sederhana, terbuka dan positif. (Ini tentunya tidak sama dengan pengerdilan semua kreativitas yang kita miliki.)

Sepintas ide itu tampak begitu sederhana, cenderung terlalu menyederhanakan hidup yang sseringkali kita hujani dengan kata-kata : “sangat kompleksss” ini. Akan tetapi dalam prakteknya, ternyata tips itu memerlukan derajat ketekunan yang cukup tinggi, sebelum semuanya menjadi kebiasaan yang mendarah daging diri kita. Dan ketika ketrampilan berpikir : sederhana, terbuka dan positif itu mulai Anda kuasai (walaupun belum 100%), dampak positifnya segera dapat dirasakan pada kehidupan kita.

Rupanya jika kita memberikan keleluasaan pada pikiran kita, bukan mustahil maka pikiran itu akan mengaduk-aduk Anda, persis ketika seseorang sedang mencari sebatang sendok yang terjatuh dalam kuali besar sop brenebun. Ia tidak akan berhenti memunculkan keraguan, ketakutan, pikiran jorok, dan lain sebagainya sampai Anda tertidur mumet karena kelelahan. Dan tak jarang mengigil ketakutan membayangkan hal-hal buruk yang terjadi. Intinya : menguras seluruh optimisme yang seringkali memang masih berwujud mimpi yang tentunya tampak belum logis.

Celakanya ketika kebiasaan itu tidak segera kita kendalikan, ia akan berubah menjadi kekuatan raksasa yang sekali sentil, dengan mudah akan meng-KO-kan kita. Mirip seperti ideologi teroris yang tidak segera dipadamkan, kemudian tiba-tiba berubah menjadi bahaya yang agresif yang tidak lagi sekedar mengancam, namun lebih dari itu, berani keluar dari persembunyian, dan terang-terangan menyerang !

Jadi sesegera mungkin agaknya kita harus masuk kearena, bertarung, habis-habisan mengendalikan kebiasaan berpikir kita, mumpung mereka masih imut-imut. Karena percaya atau tidak, seperti perkataan banyak orang bijak : “Pikiran, seperti halnya dengan uang, adalah tuan yang buruk, namun hamba yang baik”. Dengan demikian orang bijak bukan karena banyak, rumit dan kompleks pikiran yang ia miliki, tetapi justru orang bijak adalah mereka yang memiliki kendali penuh atas pikiran mereka. Sehingga mereka mampu mengarahkan pikiran mereka hanya kepada hal-hal yang penting, baik dan berguna.

Menutup artikel yang terasa cukup panjang ini, ada sebuah anekdot yang saya percaya sudah pernah Anda ketahui sebelumnya.

Ketika astronout Amerika ingin pergi ke bulan mereka mendapat sebuah kesulitan, karena pena (pulpen) yang biasa mereka pakai ternyata tidak berfungsi di ruang hampa. Maka NASA melakukan riset beberapa tahun untuk menciptakan tinta hi-tech yang kebal terhadap kondisi ruang hampa. Mereka menghitung sedemikian rupa intensitas, kepatan dan berat jenis tinta tersebut sehingga dimanapun –bahkan diruang hampa- tinta itu tetap masih bisa digunakan.Namun berbeda dngan astronout Rusia, mengetahui tinta umum tidak beroperasi di bulan sana, mereka membawa pensil ! (*)

*what a wonderfull world ! what an exciting journey !! * *Made Teddy Artiana*
http://semarbagongp etrukgareng. blogspot. com
mobile# 081317822720
email# teddyartiana_ photography@ yahoo.com

Profile saya di Majalah Human Capital http://www.portalhr .com/majalah/ edisiterbaru/ bisnis/1id1549. html

Profile saya di di Majalah SWA http://swa.co. id/2009/08/ made-teddy- artiana/

Profile saya di di Majalah Bahana http://www.ebahana. com/warta- 2162-Dari- Hobi-Datanglah- Rejeki.html

Artikel saya di Kompas http://ekonomi. kompasiana. com/2010/ 02/12/testimoni- seorang-mantan- karyawan- bca-resign- dari-tempat- kerjanya
[ Read More ]

Choisi | Pilihan


Halooooooo.....

Ketemu lagi :)

Okay, sekarang bahas yang terdengar agak abstrak di blog saya. Saya bilang agak abstrak, karena ini mungkin terdengar sedikit dewasa dan saya selama ini lebih banyak membahas tentang yang kekanak-kanakan. Hahaha. Berhubung kita semua beranjak dewasa, tidak bisa dipungkiri pelajaran ini juga pasti akan didapat. Hap!!

Berawal dari selepasnya saya, dan para sahabat dari latar kependidikan formal, kemudian terpencarnya kami, lalu muncul pandangan berbeda dan jadilah kami sekarang.

Kami, Kita, Kamu, Saya beranjak tua, dewasa itu sifat tapi tua itu mutlak. Pilihan-pilihan pun harus dibuat atau terbuat dengan sendirinya. Bagaimana saat para sahabat pergi dengan cita dan cinta masing-masing? Bagaimana jika orang tua tidak lagi mampu mendorong? Bagaimana jika para guru pun sibuk dengan eksperimen barunya?

Saat kecil, cita dan cinta terasa begitu dekat. Sekarang?! Sepatutnya semakin dekat, karena kita semakin dekat dengan mati. Ya kan! Seharusnya mission accomplished!

Ini yang jadi kata permulaannya PERNIKAHAN. (-___-)
Para sahabat mulai berdiskusi tentang ini belakangan.

"Sebentar lagi gue kan nikah! Gimana nih?"
"Aaaa...H-sekian"
"Aaaa...ga nyangka"

Segelintir kata yang tersaut dari mereka. "Kenapa?" tanya saya.
"Gimana ya kalo udah nikah nanti?"

Ada lagi yang bertanya dengan kalimat lebih formal "Menurut kamu pernikahan itu apa?"

Nikah ya nikah aja. Rasanya sama koq kayak kita sekarang. Maaf! Ini kita pandang dari segi sekedar makhluk biologis. Kenapa bule banyak yang lebih memilih tidak menikah tapi sudah tinggal satu atap? Tapi kalau dipandang dari segi ini pasti akan banyak kontroversi. Pasti!

Kenapa kontroversi itu muncul?

Karena kita hidup dan dibesarkan dari budaya yang sedemikian (budaya timur). Budaya kita banyak tata kramanya, banyak pantangan, banyak mistis, banyak pamali. Tidak bisa disalahkan juga. Karena mindset kita jadi terbentuk demikian. Makanya saya bilang di awal, ini semua PILIHAN.

Kalau dibilang saat sudah menikah gerak jadi terbatas, tergantung menyikapinya. Kalau dibilang saat sudah menikah itu beda lho! nikah itu kan hidup baru. Ah setiap hari juga melek mata itu hidup baru kita. Kemarin ya kemarin. Sekarang ya sekarang. Besok pun menjadi sekarang. Tergantung menyikapinya lagi. Jadi kenapa dibedakan?!

Bedanya kita punya partner yang kita yakini sampai mati akan menyelesaikan misi bersama. Dan saat kita memilih partner yang tidak tepat, nah! ini lah yang bikin berbeda. Karena akan muncul penyesalan-penyesalan. Itu pun masih bisa disikapi. Semua kembali ke management diri.

Pernikahan itu penyatuan 2 kepribadian menjadi satu. Artinya menyatukan 2 cita-cita menjadi satu. Sudah saling terselipkah cita-cita kita? Bukan sekedar cita-cita punya keluarga sakinah, mawadah warohmah. Tapi cita-cita dan mimpi kita sejak dulu. Mulai diselipkan saat masa pacaran atau katakanlah penjajakan. (Agak sensitif lho ya bahas beginian :p).

Kalau dipandang dari segi biologis, kita hidup ya hidup. Butuh teman ya butuh teman. Butuh pemuasan ya butuh pemuasan. Butuh materi ya butuh materi. Terlepas dari makhluk sosial dan moril, asal cita-cita dan mimpi sudah terselip dengan partner dan sudah berjanji menjalani sampai selesai misinya, sah saja hidup bersama, buat tim bersama, punya basecamp bersama, selayaknya sebuah tim lah. Loh ngerjain sendiri emang ga bisa? Bisa!! Makanya ini kan PILIHAN.

Kenapa kita memilih untuk punya partner?

Karena kita takut sendirian. Saat kita tua, siapa yang gotong mayat kita kalau tidak punya anak? Siapa yang urus kita kalau keluarga dan teman pun sudah tidak ada sementara tulang dan otot sudah mulai lunglai? Lalu kalau sudah begitu, bagaimana mimpi kita bisa seterusnya. Sejatinya, ekspetasi manusia akan kehidupan dan mimpi itu sangat besar. Namun kalah dengan pikirannya sendiri.

Karena itu banyak orang memilih punya partner, berhubung hidup di Indonesia di mana saat anak laki campur tinggal dengan anak perempuan tanpa orang tua atau saudara itu pasti jadi sumber gosip sementara cinta dan cita sudah saling terselip dan planning kehidupan sudah tersusun, apa iya gosip membuyarkan semuanya? pengucilan dan sebagainya. Makanya kita menikah, pakai ritual biar terlihat sah, biar terlihat terikat, biar tim tetap solid. Ibaratnya kalau karyawan itu kontrak. KONTRAK MATI malah!

Ah intinya balik lagi ke PILIHAN dan MANAGEMENT DIRI.


Regards

ailupika
Tuhan memberikan kita hak untuk bisa bermain takdir, namun takdir tetaplah takdir, kita hanya bisa bermain dan berputar. Kembali lagi, jadi penonton atau player? PILIHAN







[ Read More ]

Surat dari Eva

Ini surat yang sempat lama tersimpan dalam dompet. 
Namanya Eva.
Sore itu, setiap hari Kamis kedatangan saya untuk belajar mengajari adik-adik di sebuah desa yang rutin saya jambangi.
Bicara soal cita-cita dan mimpi memang tak pernah ada habisnya untuk saya. Idealis. Keyakinan lebih tepatnya. Memang tidak mudah dipercayai untuk bertahan dengan semua hal itu.
Memang tak ada ide khusus yang disiapkan hari itu untuk bertemu dengan adik-adik, selain meladeni pertanyaan-pertanyaan mereka tentang matematika dan seputar pelajaran sekolah.
Perlu saya ingat, bahwa mereka yang membawa saya pertama kali terjun ke dunia ini, dunia anak-anak, dunia tanya-jawab, dunia belajar, bagi mereka maupun saya. Sudah sepantasnya saya berterima kasih.

*** 

Eva, tidak pernah puas dengan satu pelajaran. Mereka bercampur jadi satu, SMP, SD dan tingkatnya pun berbeda. Tidak ada sesiapa lagi yang bisa membantu. Membuat saya sempat kewalahan. 
Globalisasi pun bukan hanya terjadi di sana sini. Tapi memang di sini juga. Saya bicara dan menjawab apa pun yang mereka ingin tau, tidak bisa disetarakan.
Jika bosan, mereka yang pilih topik lainnya. Dan akhirnya beginiliah jadinya dengan Eva.

*** 

Seusai belajar tentang mata pelajaran favorit mereka yang masih SD tentang penjumlahan dan pengurangan
-saya tidak sebut Matematika-
karena mereka paling suka itu!!! titik!!
Eva pun diam dan mengawasi teman-temannya yang lain, yang kurang cepat darinya. Dia bengong, dan bertanya dengan saya untuk meminta soal lagi. Tanda dia sudah mulai bosan menunggu teman-temannya.
Kalau disuruh menulis atau belajar yang namanya Bahasa Indonesia, adik-adik terlihat melengos.
Baik!
Eva, coba kamu buat surat untuk kakak ya! Antusias di wajah Eva pun terlihat malu-malu.
Surat kumaha atuh? dengan logat Sunda kasarnya yang kental.
Ceritain cita-cita Eva sepenuh hati untuk kakak.
Hmmm....dia lanjut dengan berpikir, tapi tak pernah mau bilang tidak bisa. Kecuali jika dia tidak suka, baru bilang tidak bisa.
Hmmm...lanjutnya, aku buat puisi aja ya kak! Puisi tentang cita-cita.
Wuih! dalam hati saya, tak ambil pusing, bagaimana pun bentuknya nanti, dia mau berkreasi.
Dan saat selesai, saat saya akan membubarkan kelas sebelum doa sore dimulai.
Tadaaaaaa.....
This is it.....




Regards

ailupika
saya simpan di dompet, saat semangat menyurut dan mereka boosternya!
[ Read More ]

Today Words #04


Today Quote :

Anthoni Robin (pelatih sukses di amerika, NLP Program) berkata bahwa dalam diri setiap manusia Ada RAKSASA yang sebagian orang belum dapat melihatnya...
dan mengembangkan nya...Orang2 besar dunia rata2 sudah meggunakan kekuatan dalam dirinya... 
kata ''Tung desem waringin'' Tidak ada kata GAGAL yang ada SUKSES atau BELAJAR
Rubah Cara Duduk mu...
Rubah Cara berjalan mu.
Rubah cara Berfikr mu..
Rubah Kata2 kata mu...
Rubah linggkungan mu,,..
Masuk di Komunitas kelas satu...

RUBAH KEYAKINAN MU...
Tentang apa yang sedang kita kerjakan sekarang......





Regards,


ailupika
mengutip dari seorang kawan lewat jejaring sosial
[ Read More ]

Today Words #03



Tonight Quote : 


Menabung pangkal MISKIN, Investasi pangkal KAYA, Sedekah pangkal KAYA RAYA.

Biasakan setelah menerima uang, investasikan dan sedekahkan, lalu belanjakan sisanya. Bukan sebaliknya.

Polanya adalah:
Menerima, Investasi + Sedekah, Belanja.

Bukan:
Menerima, Belanja, Investasi + Sedekah.





Regards,


ailupika
Berbagi bukan hanya lewat materi, apa pun yang kamu bisa. 
[ Read More ]

Which Kind of Perspective Are You?


Sabtu, 28 April 2012
Pagi ini...
Tanpa saya tulis tanggalnya mungkin kalian lebih cepat menyadari kalau hari ini memang tanggal 28 April 2012 ya.. Hmm., saya buka sebuah jejaring sosial yang mulai saya tinggalkan belakangan ini, kecuali intens untuk main game online. Haha.. Kalau nge-game jenis society gini sih, emang bisa dibilang cukup pakar deh. Oke skip.

Seperti biasa, saat terbuka halaman awalnya, tersaji banyak celotehan, gambar moment2 yang dianggap penting, atau pun video rekomendasi yang menunjukkan isi hati si empunya akun. Sebuah video menarik saya pagi ini untuk melihat apa isinya. Tertulis judul "Protes PPI Berlin-Jerman terhadap komisi I DPR-RI".

Saya tidak terlalu tertarik awalnya, tapi boleh lah sepertinya dilihat untuk sekali-sekali tau. Saya baca keterangan di bawahnya, barangkali saya bisa lebih tertarik. Ya. Ternyata video itu berisi tentang protes Perhimpunan Pelajar Indonesia Berlin - Jerman soal "studi banding" (--> katanya) anggota komisi I DPR-RI. Fyuuhh!! agak berat ya.. ngeri salah ngomong klo soal begini. Karena saya juga tidak begitu mendalami politik, kalau ditanya kenapa? ya saya tidak tertarik, tapi kenapa kali ini? saya hanya kagum dengan diplomasi para pelajar ini. Cut!! yookk lanjut cerita lagi..

Yang saya kagumi dalam aksi unjuk rasa ketidaksetujuan para pelajar ini adalah mereka diberikan kesempatan untuk bisa masuk langsung ke dalam KBRI Berlin di mana para anggota dewan berkumpul. Mereka menyampaikan ketidaksukaan mereka dengan nada yang halus, dan cukup memerahkan wajah para anggota DPR pastinya. Haha.

Tutur kata mereka pedas namun nada diplomasi mereka sangat menghargai bahwa mereka bicara pada orang yang lebih tua, dan satu lagi yang saya kagum dari anggota DPR, mereka tidak mencak-mencak seperti sidang paripurna saat tidak setuju dengan sebuah interupsi sekalipun banyak kritikan pedas yang mereka telan. 

Kalau teman-teman punya pengalaman di bidang seperti ini, saya mau bertanya apakah setiap unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa di Indonesia memang diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi seperti para pelajar ini??

Saya membayangkan sebuah drama korea "Great Queen Seon Deok" yang juga menyajikan tata cara berdiplomasi secara halus namun pedas. Mereka bertarung lewat kata-kata dan cukup mimik. Berkesepakatan dahulu jika ingin berperang. Sebuah cara yang keren!! Mungkin saya belum pernah sepintar mereka untuk berdiplomasi. Saya sangat terkagum.

Selebihnya soal isi video tersebut, saya tidak ingin menilai isi dari pembahasan karena hanya akan menimbulkan pro dan kontra saja. Tidak ada yang tau hati seseorang, maka seharusnya tidak ada yang berhak menilai seseorang itu baik atau tidak baik. Bercermin terlebih dahulu akan membuka perspektif yang lebih luas. How life is totally beautiful. That's why so many people wanna be immortal. See?!




Regards,

ailupika 
-Are-
Self reflection will open another perspective.
[ Read More ]

Teaching Words is Art



Menulislah tanpa batas kata
Menulislah tanpa batas kaidah baku
Menulislah dengan norma makhluk Tuhan

Mengajarlah tanpa batas kurikulum
Mengajarlah karena kita bahagia
Mengajarlah karena berbagi
Mengajarlah karena itu dari hati
Mengajarlah seperti kita mengajari diri sendiri

Sadari hidup ini seni
Mereka akan jadi profesimu
Bukan penulis, Bukan pengajar
tapi Seniman


Regards

ailupika
perlakukanlah semua orang seperti kita ingin diperlakukan semestinya

[ Read More ]

Critically Freedom



Yak. Selamat Pagi!!!
Di luar masih hujan, lebat bahkan sementara rencana hari ini semoga bisa tetap berjalan.

Baiklah. Apa yang ingin saya ceritakan di pagi yang hujan ini ya?? Hmm.. pastinya sebelum saya menulis sudah ada lintasan sekilat di benak saya. Saya rasa, saya ingin bercerita bagaimana rasanya jadi seorang relawan dan menjalani hidup seperti yang saya tempuh sekarang.

Yap. Saya terbilang sangat baru di bidang ini. Seperti seorang fotografer amatir yang baru punya kamera. Eh, klo dibilang fotografer terlalu hebat kalo baru punya kamera. Okelah, terserah bagaimana kalian memposisikannya. Pokoknya saya freelancer saat ini.

Mulai September usai dan bulan berganti Oktober tahun 2011 lalu, hidup saya mulai berubah karena sebuah kenekatan. Hihi. Saya keluar dari tempat kerja saya, yang notabene sebuah stasiun TV. Karena saya melihat media saat ini terlalu keras dan terlalu membuat orang menjadi terlalu bereuforia dan membuat saya merasa sesak karena terikat. Saya urungkan keinginan saya untuk bisa belajar banyak di perusahaan media tersebut saat itu, mungkin ada kesempatan yang lebih menyenangkan untuk saya belajar banyak tentang media.

Memang saat itu bulan puasa, dan saya seorang muslim dan kalian tau apa? Target saya memang keluar dari sana dan berleha-leha di bulan puasa itu. Hihi. Dan Abrakadabra!! Terkabuuulll...

Satu bulan persis saya menganggur, ada rasa khawatir akan hidup saya kedepan. Apakah saya akan menyusahkan orang tua saya. Uang bekal sisa gaji dan tabungan bisa bertahan sampai kapan kalau begini. Untung saja saya ingat, kalo punya satu tujuan itu fokus sama tujuannya saja, bukan menganggap setiap kejadian itu adalah proses, karena bisa jadi itu adalah godaan. Yah, karena saya yakin itu hanya melemahkan saya, saya pilih untuk menepisnya. Di bulan itu, saya luntang lantung mencari LSM yang siap menampung saya. Seorang amatir yang mau sok sokan jadi seorang sosial sejati. Hmm.. syukurnya, saat itu saya memang masih memegang satu pekerjaan saya jadi seorang helper untuk sebuah web.

Sebulan itu, saya coba dan saya menguatkan idealis saya bahwa pasti ada jalan sampai ke tempat di mana saya bisa belajar banyak hal untuk mimpi saya. Saya sempat datang ke sekretariat PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia), masuk ke CMM (Centra Mitra Muda)nya, merasakan siaran di sebuah radio, meskipun tidak lama. Di saat yang bersamaan pula, di bulan yang sama, sebuah rumah singgah kembali menggerakan saya untuk bisa bergabung menjadi tenaga pengajar di sana. Rumah singgah yang dulu pernah menjadikan saya kakak pendamping dalam Event Jambore Sahabat Anak. Masih di bulan yang sama, saya juga memutuskan untuk membantu sebuah yayasan anak cacat di Cileungsi untuk menjalankan program CSRnya yaitu, mengajar anak desa sekitar.

Sudah, ketiganya saya jalani, sambil saya iseng mengirim lamaran saat saya sudah merasa mantap jadi seorang guru SD. Berbagai macam lamaran, dari mulai guru bimbel, guru playground, guru SD sekolah islam saya tolak atas pertimbangan, saya masih harus mengajar di tempat tersebut.

Tau apa yang saya pikir ketika saya memutuskan untuk mengajar? Pasti tidak, iya ini mau saya beritahu. Sejak dulu saya terbilang sangat anti untuk bisa bicara di depan umum. Ini saya jadikan motivasi untuk bilang bahwa saya bisa. Lalu, saya tau saya bukan orang yang berlatar belakang seorang pengajar. Sempat saya dilema memutuskan ini dan bertanya sana sini atas keputusan saya menjadi pengajar. Sampai saya merasa, bahwa mengajar itu berbagi, mengajar itu bercerita, mengajar itu bermain. Dan saya tau, saya mengajar karena hati saya yang memanggil.

Sudah berjalan hampir 5 bulan. Rasanya kadang terasa sesak, karena uang yang saya punya tidak sebanyak yang mereka dapat. Makan seadanya, menikmati apa pun yang ada di depan mata padahal ingin ini itu. Haha. Namun saya yakin, Tuhan tidak membiarkan saya kesulitan dan saya pahami, ini jalan untuk mengontrol nafsu di antara euforia kota besar. Selalu ada sisa uang sesedikit apa pun untuk ditabung. Rasanya, jadi sudah terbiasa. Kadang merasa bersalah kalo yang saya ajar tidak mengerti apa yang saya jelaskan. Kadang merasa semangat, sampai mencari segala macam tutorial kemana-mana. Kadang bosan, Kadang down jika harus mendengar mereka mengulang pelajaran, kadang harus berkorban untuk memberikan sedikit reward, kadang kadang kadang...ya kadang, dan semua kadang itu harus menjadi makanan saya untuk terus belajar tentang orang-orang, hidup, diri sendiri dan Tuhan. Semua rasa masih berubah-ubah. Saya harap, saya masih punya rasa yang sama saat awal itu pada mimpi saya yang satu itu juga yang lainnya.


Regards

ailupika
Menjadi volunteer itu menjadikan saya belajar banyak hal tentang orang-orang, hidup, diri sendiri dan Tuhan.
[ Read More ]

Jalan Perjuangan Itu Sepi, Kawan! Berani?!


Ini Rabu malam, tanggal 11 Januari 2011. Mungkin beberapa orang merayakannya, mungkin juga banyak orang menganggapnya biasa. Teringat seorang guru dan seorang teman yang ingin bicara soal sukses. Ini tulisan untuk teman yang sempat bertanya, namun belum terjawab.

Hari Minggu lalu, sebelum saya bergabung dengan anak-anak hebat di Buaran, sebuah panggilan masuk ke telepon genggam saya. Terpampang nama kecil di layar yang saya kenali dia sebagai guru. Sempat tersontak karena kaget, tumben dia menelepon. Hmm. Saya sadar karena saya jarang datang berkumpul bersama para pemimpi lainnya. Saya angkat telepon itu dan kata pertama yang saya katakan "Halo". Perbincangan pun berlanjut dari sebuah kata permulaan itu.

Langsung saya minta maaf karena belum sempat datang berkumpul sekian lama. Ia bahkan tidak terdengar marah atau pun kecewa, lantas saja dia bercerita tentang sukses. Ia lantas berkata, "ya kan kita sama-sama sedang menuju sukses. kenapa? jalan sukses itu memang sepi", saya langsung teringat pertanyaan saya tempo hari lewat jejaring sosial padanya, "apa jalan perjuangan itu selalu sepi?" dan sekarang saya teringat, saya rasa dia mau sedikit bercerita.

"Jalan sukses itu memang sepi, jarang ada orang mau ambil jalan itu. Banyak tantangannya" Lagi-lagi kata-katanya menguatkan saya. "Tapi nanti lo akan sadar, bahwa semakin kesana semakin ramai". Bagaimana maksudnya saya masih mengambang, saya diam dan hanya meng-engau saja, dia membaca ekspresi suara saya dan langsung melanjutkan.

"Nanti, lo akan sadar bahwa untuk sukses kita butuh orang lain" saya baru mengerti meskipun masih mengambang. "Ya. Memang sepi, sekarang sudah tau kan?" lanjutnya. Saya pun melanjutkan dengan curhat saya soal jalan saya yang sekarang terasa sangat sepi, sekalipun banyak orang di sekitar saya. Kami pun melanjutkan pembicaraan dan semua kata-katanya menguatkan saya semacam termotivasi kembali, selalu begitu.

"Mereka itu pintar, kita ini kalah pintar Are, sekalipun lo kuliah. Tapi kita jauh lebih sukses dari mereka, karena kita tidak merasa pintar, selalu merasa ingin lebih"

"Sekarang enak kan sensasinya ngajar? karena kita pengen minterin orang, sekalipun ilmu kita ga banyak, intinya kita berusaha minterin orang, kita pun tambah pinter lagi"

Yang saya salut, guru selalu memakai kata kita, sekalipun saya yang salah. Hmm. Lalu saya bilang, "Sekarang saya bingung sabam kalo orang tanya pekerjaan saya apa?"

"Terus?" tanyanya.

"Saya bilang aja ngamen di mana-mana" dari situ saya sadar bahwa kata-kata ngamen itu sarkasme negatif yang seharusnya tidak digunakan pada diri sendiri. Kalau saya ngamen artinya saya hanya akan mengambil uang receh sampai saya mengubah status pekerjaan saya. Guru pun langsung menyanggah.

"Kalo gue sih bilang, kerjaan gue bersyukur"
Saya langsung tercengang dan saya pikir itu jawaban yang pas meskipun agak butuh penjelasan lebih dalam. Tapi apa peduli orang, nyatanya sejak dulu memang itu yang seharusnya saya katakan. Hmm., semacam kata yang hilang.

Saya telaah lagi, kata-kata itu. Ya. Benar. Kami memang bersyukur. Saya tidak kerja di kantoran malah mengumpulkan gunungan receh perlahan-lahan, tapi saya suka dan menikmati kebebasan itu. Ya. Apa itu bukan bersyukur?

Saya bertemu dengan anak-anak jalanan dan masyarakat marginal juga para pengayom mereka. Saya bertemu dengan anak-anak di atas kursi roda dan terkapar di tempat tidur.
Saya bertemu dengan teman-teman yang tulus ingin membagikan ilmunya dengan orang banyak.
Saya bebas menentukan siapa bos saya.
Saya bebas memutuskan kapan saya ingin berlibur.
Saya suka hidup saya sekarang dan saya rasa itu yang namanya bersyukur.
Dan juga artinya semakin dekat dengan sesuatu yang dulu pernah saya sebut.
Satu mimpi ini akan menjadi sesuatu yang membuat kalian begituuuuu tenangnya saat memimpikannya, begitu ikhlasnya saat menjalankannya, begitu hatimu akan merendah saat mengingatnya, dan cukup membuat air matamu berlinang saat merenungkannya.
-Satu Mimpi untuk Berjuta Realitas-

Bersyukur, itu kuncinya. Bersyukur bukan berarti pasrah. Pasrah itu bukan ikhlas. Pasrah dan ikhlas kata yang berbeda tipis. Menyebut ikhlas sebelum bertanding namanya pasrah dan dia pecundang. Menyebut ikhlas saat bertanding, itu murni pejuang.

"Nikmati saja apa yang sedang berjalan, sambil mengontrol, tapi target untuk diri sendiri kamu tetep harus punya"

"Nanti kamu akan sadar Are, betapa orang lain akan sangat dibutuhkan untuk kamu menjadi sukses jadi ramai kan, sekalipun memang terasa sepi"



Regards


ailupika
Seperti dandelion yang harus lepas dari induknya untuk terbang sendirian membentuk kembali akarnya dan mengumpulkan lagi keramaiannya.
Terima kasih atas peringatannya. Target!! tapi nikmati saja. Sukses ya!!
[ Read More ]

Body Can Talk Also


Dear Body,

How are you??
Sorry for ignoring you day by day.
And i just realize that you really mad of me now.
Sorry for being late to know.

I shouldn't ask your condition, actually.
Cause i feel it too.
I feel this case.
It is hurt.

That day, when it was getting bad.
I was ignoring you.
After that day, we were getting worse.
I was still ignoring you.
And by such a long time.
I always care of me.
I forgot you.
We should live together, honestly.
But now, we're just getting worst.

Now, my skin, my head, my leg, my face, and all of part of ours.
Their mad.
Thank you for told me last nite.
I supposed know.
That you need me to reach something that you need.
And i need you to reach something that i need too.
But us, as human are too blowed with a little happiness.
And we are getting unstable, unbalance, then we sick.

Now, i really really want to say that i regret.
Thank you very much to you.
Thank you very much cause you bring me to this condition.
Lets talk everyday.
And please, remind me time by time.
Thank you.


regards,

ailupika
best regards and sorry for you, dear body. Guys!! come on hear your body's voices

[ Read More ]

Aqyloteodhrena


Jumat, 18 November pukul 03.03 pagi.
Pagi ini saya terbangun dari tidur yang gelisah sejak malam tadi. Saya bangun dengan rasa enggan, tapi kalau tidur lagi juga tidak bisa. Akhirnya saya buka ponsel dan tertarik akan satu hal, saya langsung cek di inet dan BOOM!! *lebay*, saya benar-benar tidak bisa tidur lagi, mungkin setelah menulis baru akan sedikit muncul rasa kantuk.


Cerbung Shou's Note
Secuil Kejujuran #01

Suatu hari, di negeri yang antah berantah, hidup sebuah keluarga. Keluarga kecil namun mereka berkecukupan. Sebelum sang ayah dan sang ibu menikah, mereka berjanji pada Sang Hyang Widi untuk bisa saling menjaga kehidupan mereka dengan kejujuran. "Jika kejujuran itu sudah menghilang, maka kalian akan mulai merasakan nikmatnya berbohong, tanpa kalian sadari, kalian akan menghancurkan hidup bahagia kalian sendiri" Begitu Sang Hyang menjawab.

Selama 10 tahun mereka hidup harmonis, mereka memiliki anak-anak. Karena kerja keras sang ayah dan kesabaran sang ibu, kehidupan mereka merangkak naik dari tidak punya sama sekali, menjadi dapat dikatakan berada. Sang ayah yang bekerja sebagai awak istana, sekalipun hanya seorang kusir membuat mereka mendapatkan fasilitas istana.

Suatu hari, di negeri yang lebih jauh dari negeri antah berantah ini, terdengar sebuah rumor mengenai penyihir wanita yang sangat hebat. Penyihir ini tinggal di dalam sebuah kastil yang dijaga oleh dedalu berduri, seekor naga, prajurit dedemit dan muslihat sihir yang membuat kastil tersebut terselubung. Sang raja dan pangeran terpanggil pun sebagai seorang yang merasa tertantang sebagai seorang ksatria terpancing rumor tersebut dan akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat ke sana.

Tibalah peran sang ayah, si kusir kereta kuda raja diangkat menjadi seorang pembawa panji penyampai pesan jika terjadi sesuatu pada pasukan mereka. Sebelum berangkat sang ayah bilang dan berpesan pada sang ibu, bahwa ia akan baik-baik saja. "Ayah tidak akan bertempur, hanya pemegang panji istana dan penyampai pesan jadi ayah ada di barisan belakang, ibu tidak perlu khawatir".

Hari keberangkatan menuju kastil penyihir wanita jahat itu pun tiba. Siap lah beberapa pasukan untuk melihat tentang kebenaran rumor akan adanya kastil yang dijaga oleh dedalu raksasa berduri itu. Sampai di sebuah hutan, pasukan mereka memasuki kabut tebal yang sama sekali tidak terasa dingin. Mereka malah merasa hangat. Namun, tidak satu pun makhluk hidup terlihat sekali pun ada hutan senyaman ini. Sang raja dan pangeran pun menyadari, "Kita sudah masuk ke dalam daerahnya, Ayah"

Sang ayah, alias si pemegang panji pun menelan ludah karena merasakan hal yang sama. Ia merinding sekalipun hutan itu begitu hangat. Seiring dengan perjalanan mereka memasuki hutan. Mereka menemukan sebuah sungai dan memutuskan untuk berhenti. Para pasukan langsung saja meluruskan kaki dari perjalanan panjang mereka. Sang Ayah pun langsung saja mendekati sungai dan menyeruput air yang jernih itu. Tiba-tiba,

"Tunggu, jangan diminum. Siapa tau itu muslihat dari penyihir?!" Teriak sang pangeran, namun terlanjur si pemegang panji itu sudah menelan air tersebut. Beberapa orang lainnya juga begitu. Setelah itu, muncul riak dari air tersebut dan tanah pun bergetar. Sang raja dan pangeran berusaha untuk melindungi pasukannya dengan berteriak, "Mundur!!"

Tidak dinyana, ternyata bukan kutukan atau jebakan, malah seorang dewa. Dewi air tepatnya. Aqyloteodhrena. Mereka pun menundukan kepala dan memujanya. "Avalokiteshvara!" teriak mereka sebagai penghormatan bangsa antah berantah mereka.

"Ada apa kalian ingin menyeberangi sungai ini? Aku telah menjaga perbatasan ini demi umat manusia di luar sana" tanya sang Dewi.

"Dewi, kami ingin mengetahui rumor penyihir wanita yang ada di balik sungai yang Dewi jaga" jawab pangeran.

"Tidak ada yang boleh melewati perbatasan ini, sesungguhnya aku telah menjaga kalian dari apa pun yang jahat yang ingin masuk ke dalam tempat aman kalian" tegas Aqyloteodhrena.

"Dewi, aku telah berjanji sejak sekian lama untuk menjaga rakyatku dari segala macam kejahatan di luar sana. Kita pernah berkomitemen juga dahulu, bukan? apa kau ragu akan kemampuanku setelah sekian lama aku persembahkan kemenangan untuk para dewa?" sang raja pun mulai meyakinkan Sang Dewi.

"Ketahuilah wahai Raja Etheon anak dari Raja Methodore keturunan para raja terdahulu, sesungguhnya kemenangan kalian tidak berarti apa pun bagi kami" tentang Aqylotoedhrena.

"Kami sangat mengerti Dewi. Lalu mengapa kini kau begitu khawatir? Mengapa kau hadir saat kami sampai sejauh ini? Mengapa tidak mencegah kami saat kami melalui sungai sebelumnya? Para dewa pasti punya rencana" kata Raja Etheon.

"Baiklah, Etheon. Aku tidak ingin kau menjadi seorang pengingkar. Aku telah melihat kejayaanmu membawa kerajaanmu hingga sejauh ini. Tapi aku sudah peringatkan, mereka yang di luar sana bisa menghancurkan kejujuran yang telah kalian bangun sejak dulu" kata Aqyloteodhrena.

"Jika kau yakin telah menanamkan kejujuran hingga ke akar budaya rakyatmu, maka kau boleh pergi, tapi bukan untuk kesombongan. Aku buka kan jalan. Semoga kembali dengan selamat, kami para dewa hanya memberikan kebebasan kalian untuk memilih atas peringatan-peringatan kami" sambung Sang Dewi.

Akhirnya mereka pun meneruskan perjalanan dan Aqyloteodhrena pun membekali mereka dengan Elendil. Sebuah kristal kejujuran sebagai penolong mereka.

To Be Continued...

Regards,

ailupika
karena inspirasi itu datangnya tiba-tiba.
Ini kreatifitas yang fiksi, maaf jika ada kesamaan nama namun perbedaan makna.
[ Read More ]

Ini Sebuah Labuhan




Entah sejak kapan saya terbesit untuk bisa mengenal anak-anak lebih.
Entah sejak kapan mereka membuat perasaan saya mengalun begitu lembut.
Seorang guru bertanya tentang tujuan saya.
Saya berpikir dan kembali bertanya sebelum menjawab pertanyaannya.
Apa tujuan itu sama dengan cita-cita?

Guru tertegun dan mulai memecah antara cita-cita dan tujuan.
Ia diam sejenak.
Akhirnya mulai terdengar kata dari mulutnya.
Sebenarnya sama saja.
Sama tapi tidak sama, itu yang saya lihat dari wajahnya.
Namun dia tetap dengan wajahnya yang buat saya penasaran.
Saya pasang muka yang terbaca : "Sepertinya tidak begitu"
Kawan yang lain pun membaca mimik itu.
Cita-cita itu lebih duniawi <<-- kata kawan.
Sementara guru masih diam. Kali ini ditambah angguk-angguk.
Saya pun diam, sementara kawan lain seolah terbuka pikirannya dan menimpali.
"Iya, kalau tujuan itu lebih spiritual"
Alis saya makin mengernyit.
Tapi saya mengerti maksudnya.

Guru tetap diam dan angguk-angguk.
Saya pun mulai menjawab dengan simpulan dari para kawan.
"Saya mau keliling dunia"
Guru terkekeh, yang lain diam.
Saya mulai merasa sombong dan berlebihan.
Guru bilang di sela kebingungan saya.
"Berarti untuk belajar kan?"
Saya langsung sadar, ya.
Semua memang seharusnya untuk belajar.
Sejak awal pun bergabung bersama mereka, saya bilang ingin belajar banyak hal.
Merasa ingin meralat semua jawaban saya.

Hingga saya sadari.
Saya suka kultur, saya suka travelling.
Saat kecil banyak kultur yang saya perhatikan.
Jepang terutama.
Lanjut ke India.
Lalu Rusia.
Kemudian Jerman.
Kenal seorang teman yang bisa bahasa Sweden dan ayahnya menetap di Ceko.
Karena sebuah film saya perhatikan Ukraina.
Lalu saya tertarik pada Cina.
Bekerja pada seorang Korea.
Mitologi Yunani, Romawi.
Sampai pada film favorit yang mengangkat bahasa Finland.

Saya suka belajar itu semua.
Saya ingin keliling dunia!!
Saya ingin bercerita banyak hal.
Hingga hari itu berakhir dan diskusi kami membawa hingga larut.
Guru bilang. "Ga ada habisnya kalo bahas ini, pulang pulang!"

Hari itu membuat saya merenungkan semua kata-kata saya.
Sampai pada, entah hari apa, jam berapa dan waktu apa.
Saya sadar.
Buat apa saya keliling dunia??
Saya belajar, saya menikmati semua pemandangan itu sendirian.
Setelah itu apa??
Tidak ada gunanya jika hanya sekedar melancong sana sini.
Semua orang bisa, itu bukan tujuan saya. Itu nafsu.
Sampai akhirnya sesuatu bilang.
Saya ingin membagikan cerita ini pada anak-anak saya kelak.
Saya ingin menulis. Saya ingin membagi pengalaman saya.
Semua yang pernah saya jalani membawa saya sampai saat ini.

Patah hati, Kekesalan, Kenekatan, Keberanian dan Kesadaran juga Kelembutan.
Kepasrahan.
Akhirnya Tuhan kenalkan saya pada anak-anak itu.
Sebagian dari mereka semua.
Yang di jalan, di kampung, di atas kursi roda, di ambang hidup.
Di pesta, di rumah, dan di dalam gendongan.
Beberapa film memperkenalkan saya pada pendidikan.
Pekerjaan saya dahulu membawa saya belajar tentang seorang pendidik.
Sahabat-sahabat saya.
Mereka semua pendidik.
Saya tidak ingin menjadi seorang pendidik seperti mereka.
Pendidik yang ada di belakang sebuah institusi.
Masih terkekang dan masih belum bisa membebaskan.
Mungkin saya belum benar.
Pendidik yang setulusnya mencintai dan berpihak pada pendidikan anak-anak.

Sampai akhirnya keputusan saya kembali ditegaskan.
Sebuah pertemuan kembali pada pembahasan itu.
Guru kembali bertanya.
Entah memang dia tidak ingat atau ingin mengingatkan saya.
"Jadi apa tujuannya?"
Kali itu saya menjawab tegas.
"Saya ingin keliling dunia. Tapi di setiap tempat singgah saya,
harus ada sesuatu yang saya berikan di sana"
Ia pun mengerti dan tersenyum mendengar penjabaran saya akan mimpi dan tujuan ini.
Saya semakin yakin.
Keluar dari pekerjaan dan saya malah semakin bahagia.
Semakin dekat dengan anak-anak.
Semakin saya menyadari, mimpi dan tujuan yang terkonsep itu semua mungkin.
Saya terdengar gila pasti.

Sampai akhirnya saya menangis karena sebuah terapi yang mengungkap keresahan saya.
Guru kembali menenangkan saya.
"Bingung dan gila itu sebuah tingkatan pemahaman menuju yang tertinggi"
"Einstein, Edison, Newton, dan lainnya mereka semua terkucil"
"Tapi saat mereka membuktikan apa yang tidak mungkin menurut orang saat itu"
"Orang-orang baru percaya dan kini semua temuan mereka bukan omong kosong lagi"
"Jadi beranilah untuk jadi gila dan bingung"
Mereka salah satu sosok inspirasi saya :))





Regards

ailupika
ungkap saja, suatu hari mungkin akan jadi labuhan untuk orang lain.
berkatnya, saya mengenal banyak.

[ Read More ]

Price Tag, Free Price!


Seems like everybody's got a price
I wonder how they sleep at night
When the sale comes first and the truth comes second
Just stop for a minute and smile

Why is everybody so serious?
Acting so damn mysterious
You got your shades on your eyes and your heels so high
That you can't even have a good time

Everybody look to their left
Everybody look to their right
Can you feel that? Yeah
We'll pay them with love tonight

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance
Forget about the price tag

Ain't about the cha-ching, cha-ching
Ain't about the ba-bling, ba-bling
Wanna make the world dance
Forget about the price tag

We need to take it back in time
When music made us all unite
And it wasn't low blows and video hoes
Am I the only one gettin' tired?

Why is everybody so obsessed?
Money can't buy us happiness
Can we all slow down and enjoy right now
Guarantee we'll be feelin' alright

Everybody look to their left
Everybody look to their right
Can you feel that? Yeah
We'll pay them with love tonight

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance
Forget about the price tag

Ain't about the cha-ching, cha-ching
Ain't about the ba-bling, ba-bling
Wanna make the world dance
Forget about the price tag

Yeah, yeah, well, keep the price tag and take the cash back
Just give me six strings and a half stack
And you can keep the cars, leave me the garage
And all I, yes, all I need are keys and guitars

And guess what, in 30 seconds I'm leaving to Mars
Yes, we leaving across these undefeatable odds
It's like this man, you can't put a price on life
We do this for the love, so we fight and sacrifice every night

So we ain't gon' stumble and fall, never
Waiting to see, a sign of defeat, uh uh
So we gon' keep everyone moving their feet
So bring back the beat and then everybody sing, it's not about

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance
Forget about the price tag

Ain't about the cha-ching, cha-ching
Ain't about the ba-bling, ba-bling
Wanna make the world dance
Forget about the price tag

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance
Forget about the price tag

Ain't about the cha-ching, cha-ching
Ain't about the ba-bling, ba-bling
Wanna make the world dance
Forget about the price tag

Yeah, yeah
Oh, forget about the price tag

By Jessi J


regards

ailupika
[ Read More ]

Mozart dan Seafood?? Kombinasi Apik

Satu cerita saya dapat dari teman sekantor saya. Mungkin lebih cocok dipanggil mas, karena memang dia sudah berumur dan berkeluarga.

Dalam satu perbincangan di tengah makan malam kami dengan nasi kotak langganan yang tidak pernah lewat, ia bercerita. Panggil saja mas Vin. Saya cukup tertarik dengan sesuatu yang belum pernah saya coba korek darinya. Dia gondrong, agak pendiam mungkin, dan serius kelihatannya, segan saya menyapanya.

Saat berbincang, untungnya ada teman yang lain di sana dan cukup bisa mencairkan suasana beku yang saya dan mas Vin buat.

Berawal dari perbincangan soal Universitas, merembet sampai ke cerita anaknya.

Anaknya hebat, jago main musik, bisa lebih dari 2 bahasa [mancanegara loh ya], ikut program akselerasi, seumur 16 tahun sudah masuk Universitas, dan dia hanya santaaaaiii. Tidak pernah belajar katanya!! Hebat!! Padahal mas Vin ngaku, orang tuanya ga gitu2 amat.

Hebat saya bukan hebat karena dia hebat dalam keakademikan, tapi hebat bagaimana dia menyikapi semuanya. Dia cerdas!!

Langsung saja saya tanya, ko bisa mas? gimana cara bikinnya? kami terkekeh.

Sejak hamil, istrinya selalu diberi makan seafood dan dengar musik Mozart. Sekarang kakak beradik itu sudah bisa memilih negara mana yang mau mereka tuju. Alias mereka malah ditawari guru untuk bisa ikut pertukaran pelajar ke luar negeri.

Woowww!!!

Orang tua yang pintar!!


ailupika

regards
nasib seorang anak tergantung dari orang tuanya.
Mozart terima kasih^^
[ Read More ]

Pemimpi Kecil yang Racau


Ini surat saya tulis untuk salah seorang sahabat pemimpi...

Hei kau pemimpi!
Aku tau di jagadmu yang luas tak berbatas, kau lah penguasanya. Kau melebihi Tuhan atas segalanya.
Dalam coret moret keresahan akan dunia, aku yakin syairmu lebih dahsyat menyiratkan sesuatu.
Mungkin memang sudah saatnya kau mengilhami orang lain.

Jujur aku iri padamu pemimpi kecil, kau ambil kesempatan tanpa pikir apa pun dan meninggalkan segalanya. Kau me-reka segalanya tanpa kutau itu bulus atau tulus. Kini, saat ini, aku kehilangan sosok pemimpi lagi dan lagi harus bermimpi sendiri.

Mungkin ini saatnya kita berpencar menjalankan misi ini. Dengan alasan apa pun yang terjadi di hidupmu dan hidupku. Aku hanya berharap, kita sama-sama sedang mengilhami orang lain. Apa kau punya tekad yang sama, wahai pemimpi?!

Satu kalimat yang paling aku ingat dari mu pemimpi,
"Apa yang orang lain katakan, seyakin apa pun dia menceritakannya, gambaran di kenyataannya belum tentu mirip dengan apa yang dikatakannya"

Aku harap kata-katamu menguatkan aku untuk tidak terus memikirkan kebaikan dan keburukan orang lain dan membandingkan dengan diri sendiri.


regards,

ailupika
Di mana pun kau berada sekarang, aku menunggu cerita petualanganmu, sahabat mimpi kecil!





[ Read More ]