Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Surat dari Eva

Ini surat yang sempat lama tersimpan dalam dompet. 
Namanya Eva.
Sore itu, setiap hari Kamis kedatangan saya untuk belajar mengajari adik-adik di sebuah desa yang rutin saya jambangi.
Bicara soal cita-cita dan mimpi memang tak pernah ada habisnya untuk saya. Idealis. Keyakinan lebih tepatnya. Memang tidak mudah dipercayai untuk bertahan dengan semua hal itu.
Memang tak ada ide khusus yang disiapkan hari itu untuk bertemu dengan adik-adik, selain meladeni pertanyaan-pertanyaan mereka tentang matematika dan seputar pelajaran sekolah.
Perlu saya ingat, bahwa mereka yang membawa saya pertama kali terjun ke dunia ini, dunia anak-anak, dunia tanya-jawab, dunia belajar, bagi mereka maupun saya. Sudah sepantasnya saya berterima kasih.

*** 

Eva, tidak pernah puas dengan satu pelajaran. Mereka bercampur jadi satu, SMP, SD dan tingkatnya pun berbeda. Tidak ada sesiapa lagi yang bisa membantu. Membuat saya sempat kewalahan. 
Globalisasi pun bukan hanya terjadi di sana sini. Tapi memang di sini juga. Saya bicara dan menjawab apa pun yang mereka ingin tau, tidak bisa disetarakan.
Jika bosan, mereka yang pilih topik lainnya. Dan akhirnya beginiliah jadinya dengan Eva.

*** 

Seusai belajar tentang mata pelajaran favorit mereka yang masih SD tentang penjumlahan dan pengurangan
-saya tidak sebut Matematika-
karena mereka paling suka itu!!! titik!!
Eva pun diam dan mengawasi teman-temannya yang lain, yang kurang cepat darinya. Dia bengong, dan bertanya dengan saya untuk meminta soal lagi. Tanda dia sudah mulai bosan menunggu teman-temannya.
Kalau disuruh menulis atau belajar yang namanya Bahasa Indonesia, adik-adik terlihat melengos.
Baik!
Eva, coba kamu buat surat untuk kakak ya! Antusias di wajah Eva pun terlihat malu-malu.
Surat kumaha atuh? dengan logat Sunda kasarnya yang kental.
Ceritain cita-cita Eva sepenuh hati untuk kakak.
Hmmm....dia lanjut dengan berpikir, tapi tak pernah mau bilang tidak bisa. Kecuali jika dia tidak suka, baru bilang tidak bisa.
Hmmm...lanjutnya, aku buat puisi aja ya kak! Puisi tentang cita-cita.
Wuih! dalam hati saya, tak ambil pusing, bagaimana pun bentuknya nanti, dia mau berkreasi.
Dan saat selesai, saat saya akan membubarkan kelas sebelum doa sore dimulai.
Tadaaaaaa.....
This is it.....




Regards

ailupika
saya simpan di dompet, saat semangat menyurut dan mereka boosternya!
[ Read More ]

Terlanjur Jatuh Cinta


can I have both?!



Sekitar 3 sampai 4 tahun yang lalu, pernah saya sangat ingin menjadi seorang penyiar radio. Ingin bersuara, tetap di belakang layar saja. Pernah sekali saya coba audisi di sebuah radio daerah Jakarta Timur. Tidak lolos! saya yakin karena saya belum mumpuni.

Sore ini, yak tepat sore ini, sebenarnya beberapa hari yang lalu, sebuah nomer lokal yang saya tidak kenal terus menghubungi saya, tak dinyana, tak pernah lagi berharap, saya pikir sudah hangus dimakan spam e-mail, dan di saat saya sudah sangat jatuh cinta dengan kreativitas mengajar, jatuh cinta dengan celoteh anak-anak, di saat saya sudah siap untuk mengatur kelas saya sendiri. Kini! mereka bilang saya dapat invitation untuk datang ke radio. Sebuah radio yang pernah menjadi harapan saya untuk belajar menjadi seorang penyiar, bersuar, tanpa wajah di hadapan. Saya memang sempat gigih untuk terus mencoba bergabung. 

Jika pun bisa, saya tetap ingin menyampaikan apa yang ada di dalam sini. Not because we are good then we happy, but because we are happy then we can be better.


Regards,

ailupika
saya masih terus berjalan anak-anak, saya akan sampai cepat atau lambat





[ Read More ]

Komunikasi


Kembali lagi bersama rasa ingin menuangkan banyak hal, saat kepiawaian bermain kata mulai menukik. Dia bilang, ini bukan dunianya. Dan saya mengakui, ini dunia saya. Kita punya dunia berbeda, baiklah saya hargai, kami saling menghargai.

***

Satu tahun 1 bulan tribut mengajar saya berjalan, dengan target setiap berganti tahun harus ada perbaikan besar alhasil ujian jika saya lanjut kuliah dan ingin naik tingkat berikutnya. Seiring dengan ini, banyak keputusan yang saya ambil. Banyak penguatan dan pembelajaran tentang pengambilan keputusan. Saya bersyukur telah menemukan apa yang saya inginkan.

Buku, teknologi, paper, soal, dan celotehan mereka jadi kehidupan saya kini. Saat ingin menyerah dengan ketidaktahuan, saya ingat, BABY BOOM! kata yang dulu pernah kami bahas sebagai momok dunia yang tidak disadari kebanyakan orang. Belajar dengan sistem pemahaman terhadap sample secara langsung ini menjadi benar-benar pembelajaran di universitas alam semesta ini. Saat referensi berbauran dan para peneliti mencari sample barunya. Buku yang tidak pergi kemana pun. Coret demi coretan pensil, stabilo, pulpen dan semacamnya tertulis dengan percobaan ini itu. Sample per sample diambil untuk menjelaskan BABY BOOM!

Dia benar, mereka sudah sangat banyak terlihat!

Dan saya pikir dia juga benar, bahwa jika belum bisa melakukan banyak untuk dunia, paling tidak yang jadi milikmu dulu diperlakukan sebagai sample yang spesial.

***

Apa yang Anda pikir tentang anak yang piawai bermain gadget dan tidak tahu bermain dengan alam?
1) Dia hebat dan sangat pintar, "anak sekarang hebat-hebat deh! kalah kita yang udah dewasa,  komputer aja malah kita yang diajari anak"
2) Kasian mainnya di kamar terus, ga pernah keluar rumah, "jaman kita dulu mah main layangan, nangkep capung, main kelereng, gambaran, anak-anak sekarang mana?! sepi!"

Dari sample tersebut dulu contohnya. 

Ada yang berpikir, sebaiknya seimbang, mereka diperkenalkan dengan keduanya. Kenyatanya, komentar mengenai keduanya sampai ke telinga anak dan menyebabkan kebingungan pada anak lalu menjadikannya masa bodo. Membuatnya tidak peduli dengan omongan orang. Membuatnya semena-mena melakukan hal yang dia inginkan. 

Kata-kata! Bahasa Tubuh! Intonasi!

Itu yang harus dipikirkan, Bagaimana mengolah kata-kata agar semuanya indah? Bukan kubu mana yang menang. Mengolah kata itu yang benar-benar jadi pekerjaan yang tidak mudah. Rindu syair seindah sastra zaman dulu. Dan kini saya paham, mengapa dulu Nabi membuat semuanya terselubung. 

Regards

ailupika
Belajar komunikasi itu belajar meredam ego
Belajar komunikasi itu belajar bersimpati dan berempati kepada diri sendiri dan rekan bicara
Belajar komunikasi itu belajar "menangkap" arti dari bahasa tubuh rekan bicara
Belajar berkomunikasi itu belajar mengeja A B C B A
Belajar komunikasi itu belajar untuk mengembangkan bawah sadarnya
 -Isal Guntur Saputra-



[ Read More ]

Critically Freedom



Yak. Selamat Pagi!!!
Di luar masih hujan, lebat bahkan sementara rencana hari ini semoga bisa tetap berjalan.

Baiklah. Apa yang ingin saya ceritakan di pagi yang hujan ini ya?? Hmm.. pastinya sebelum saya menulis sudah ada lintasan sekilat di benak saya. Saya rasa, saya ingin bercerita bagaimana rasanya jadi seorang relawan dan menjalani hidup seperti yang saya tempuh sekarang.

Yap. Saya terbilang sangat baru di bidang ini. Seperti seorang fotografer amatir yang baru punya kamera. Eh, klo dibilang fotografer terlalu hebat kalo baru punya kamera. Okelah, terserah bagaimana kalian memposisikannya. Pokoknya saya freelancer saat ini.

Mulai September usai dan bulan berganti Oktober tahun 2011 lalu, hidup saya mulai berubah karena sebuah kenekatan. Hihi. Saya keluar dari tempat kerja saya, yang notabene sebuah stasiun TV. Karena saya melihat media saat ini terlalu keras dan terlalu membuat orang menjadi terlalu bereuforia dan membuat saya merasa sesak karena terikat. Saya urungkan keinginan saya untuk bisa belajar banyak di perusahaan media tersebut saat itu, mungkin ada kesempatan yang lebih menyenangkan untuk saya belajar banyak tentang media.

Memang saat itu bulan puasa, dan saya seorang muslim dan kalian tau apa? Target saya memang keluar dari sana dan berleha-leha di bulan puasa itu. Hihi. Dan Abrakadabra!! Terkabuuulll...

Satu bulan persis saya menganggur, ada rasa khawatir akan hidup saya kedepan. Apakah saya akan menyusahkan orang tua saya. Uang bekal sisa gaji dan tabungan bisa bertahan sampai kapan kalau begini. Untung saja saya ingat, kalo punya satu tujuan itu fokus sama tujuannya saja, bukan menganggap setiap kejadian itu adalah proses, karena bisa jadi itu adalah godaan. Yah, karena saya yakin itu hanya melemahkan saya, saya pilih untuk menepisnya. Di bulan itu, saya luntang lantung mencari LSM yang siap menampung saya. Seorang amatir yang mau sok sokan jadi seorang sosial sejati. Hmm.. syukurnya, saat itu saya memang masih memegang satu pekerjaan saya jadi seorang helper untuk sebuah web.

Sebulan itu, saya coba dan saya menguatkan idealis saya bahwa pasti ada jalan sampai ke tempat di mana saya bisa belajar banyak hal untuk mimpi saya. Saya sempat datang ke sekretariat PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia), masuk ke CMM (Centra Mitra Muda)nya, merasakan siaran di sebuah radio, meskipun tidak lama. Di saat yang bersamaan pula, di bulan yang sama, sebuah rumah singgah kembali menggerakan saya untuk bisa bergabung menjadi tenaga pengajar di sana. Rumah singgah yang dulu pernah menjadikan saya kakak pendamping dalam Event Jambore Sahabat Anak. Masih di bulan yang sama, saya juga memutuskan untuk membantu sebuah yayasan anak cacat di Cileungsi untuk menjalankan program CSRnya yaitu, mengajar anak desa sekitar.

Sudah, ketiganya saya jalani, sambil saya iseng mengirim lamaran saat saya sudah merasa mantap jadi seorang guru SD. Berbagai macam lamaran, dari mulai guru bimbel, guru playground, guru SD sekolah islam saya tolak atas pertimbangan, saya masih harus mengajar di tempat tersebut.

Tau apa yang saya pikir ketika saya memutuskan untuk mengajar? Pasti tidak, iya ini mau saya beritahu. Sejak dulu saya terbilang sangat anti untuk bisa bicara di depan umum. Ini saya jadikan motivasi untuk bilang bahwa saya bisa. Lalu, saya tau saya bukan orang yang berlatar belakang seorang pengajar. Sempat saya dilema memutuskan ini dan bertanya sana sini atas keputusan saya menjadi pengajar. Sampai saya merasa, bahwa mengajar itu berbagi, mengajar itu bercerita, mengajar itu bermain. Dan saya tau, saya mengajar karena hati saya yang memanggil.

Sudah berjalan hampir 5 bulan. Rasanya kadang terasa sesak, karena uang yang saya punya tidak sebanyak yang mereka dapat. Makan seadanya, menikmati apa pun yang ada di depan mata padahal ingin ini itu. Haha. Namun saya yakin, Tuhan tidak membiarkan saya kesulitan dan saya pahami, ini jalan untuk mengontrol nafsu di antara euforia kota besar. Selalu ada sisa uang sesedikit apa pun untuk ditabung. Rasanya, jadi sudah terbiasa. Kadang merasa bersalah kalo yang saya ajar tidak mengerti apa yang saya jelaskan. Kadang merasa semangat, sampai mencari segala macam tutorial kemana-mana. Kadang bosan, Kadang down jika harus mendengar mereka mengulang pelajaran, kadang harus berkorban untuk memberikan sedikit reward, kadang kadang kadang...ya kadang, dan semua kadang itu harus menjadi makanan saya untuk terus belajar tentang orang-orang, hidup, diri sendiri dan Tuhan. Semua rasa masih berubah-ubah. Saya harap, saya masih punya rasa yang sama saat awal itu pada mimpi saya yang satu itu juga yang lainnya.


Regards

ailupika
Menjadi volunteer itu menjadikan saya belajar banyak hal tentang orang-orang, hidup, diri sendiri dan Tuhan.
[ Read More ]

Heroes are Not Always Protagonist

INUYASHA
Tingkahnya yang konyol, belagu dan sok tau. Dia juga bisa romantis. Haha. Inuyasha sempet bikin saya mengumpulkan majalah anime yang beken saat itu Animonster. Saya rela menyisihkan uang jajan hanya untuk membeli majalah dan menantikan posternya setiap bulannya. Ga tau, buat saya dia kereeeeennn!!!


Capt. Aizen >> BLEACH
Film Bleach yang sempat menghantui di saat saya keranjingan nonton Naruto. Yang sempat juga bikin saya lumer dengan ide kejahatannya sangat terselubung, yang sempat juga menggantikan guru Kakashi, si cool dari Naruto. Aizen itu misterius, permainan ilusi pikirannya, menjadi dalang kejahatan yang terselubung di antara target-targetnya. Dia itu konseptor dan pembuat ide gila. Sukaaaaa!! :)) Kyōka Suigetsu


Kurapika >> Hunter X Hunter
Hunter X Hunter cukup buat saya melupakan ekskul sekolah saat itu dan bolos bimbel karena film ini diputar sekitar pukul 3 sore sehingga membuat saya terbirit-birit lari sepulang dari sekolah. Terpikir nama kami hampir sama. Kurapika dan Lupika. Gayanya yang tomboy dan identitasnya yang misterius antara laki-laki dan perempuan buat saya terinspirasi untuk jadi perempuan yang kuat dan tomboy. Sejak kenal dia, saya bangga dengan nama tengah saya, Lupika, sekalipun tidak tau artinya ;)


Kaito 1412 >> Detective Conan
Setahun terakhir saya tersadar dengan tokoh misterius ganteng, keren dan pinternya mengecoh orang ampun-ampun. Dia pencuri yang hanya untuk iseng-iseng, bukan karena masalah ekonomi. Haha. Kaito Smart dan pencuri yang misterius. Julukan ini saya kasih juga buat si pacar. Kaitoooo!! Miss you..weeekk.. :p


Noda Megumi..Mukyaaa!! Gyabooo!! >> Nodame Cantabile
Gyaboooooooo...itu kata-kata khasnya. Sekalipun ada Chiaki Senpai yang gantengnya bikin adik kelasnya pada klepek2, tapi saya tetap pilih Nodame. Dia low profile, jauh dari kepura-puraan, mimpinya sederhana tapi mengena. "Aku mau jadi guru TK dan istri Chiaki Senpai" Hmm.. hahaha.. buat saya terenyuh, seorang yang main pianonya jagonya ampun-ampun punya keinginan untuk cuma berkutat sama anak-anak. Like this banget!! Inspirasi sayaaa..Nodame..


Ai Haibara >> Detective Conan
Ai, sejak tau aizen dan ai haibara, saya putuskan panggilan simple untuk nama saya. "Ai". Sosoknya yang cantik tapi tetap cool dan apa adanya.


Shun "Saint Andromeda" >> Saint Seiya
Yak, ini tokoh yang saya anggap jadi boost confidence karena punya rambut yang berantakan juga ikal. Hah!! apa daya, dari dulu pengen punya rambut kayak kurapika tapi lebih pas sama karakter rambutnya Shun. Pernah coba pengen punya rambut gaya Nodame, tapi tetep Shun yang terlihat. Haha. Tapi dia keren juga. Agak aneh, dia cowok tapi kayak cewek. hihi..
Gak tau kenapa, hero dengan weapon rantai lebih saya pilih ya. Hmm..


Saya mungkin bukan orang yang mudah mengingat segalanya. Sejak kecil, sangat suka film-film kartun jepang bahkan sampai saya sebesar ini.

Selain Sailor Moon, Saint Seiya, Ultraman, Kamen Rider, Jiban, dan banyak lagi film yang saya tonton di hari minggu masa kecil saya. Namun, mereka lah yang sampai sekarang masih membekas di ingatan saya :)

Sosok misterius, pintar, tomboy, pengendali pikiran, caur. Saya suka!! Tidak notabene selalu tokoh utama yang keren.


Regards

ailupika
selentingan memoar masa kecil yang terbawa sampai dewasa ;p
[ Read More ]

Ini Sebuah Labuhan




Entah sejak kapan saya terbesit untuk bisa mengenal anak-anak lebih.
Entah sejak kapan mereka membuat perasaan saya mengalun begitu lembut.
Seorang guru bertanya tentang tujuan saya.
Saya berpikir dan kembali bertanya sebelum menjawab pertanyaannya.
Apa tujuan itu sama dengan cita-cita?

Guru tertegun dan mulai memecah antara cita-cita dan tujuan.
Ia diam sejenak.
Akhirnya mulai terdengar kata dari mulutnya.
Sebenarnya sama saja.
Sama tapi tidak sama, itu yang saya lihat dari wajahnya.
Namun dia tetap dengan wajahnya yang buat saya penasaran.
Saya pasang muka yang terbaca : "Sepertinya tidak begitu"
Kawan yang lain pun membaca mimik itu.
Cita-cita itu lebih duniawi <<-- kata kawan.
Sementara guru masih diam. Kali ini ditambah angguk-angguk.
Saya pun diam, sementara kawan lain seolah terbuka pikirannya dan menimpali.
"Iya, kalau tujuan itu lebih spiritual"
Alis saya makin mengernyit.
Tapi saya mengerti maksudnya.

Guru tetap diam dan angguk-angguk.
Saya pun mulai menjawab dengan simpulan dari para kawan.
"Saya mau keliling dunia"
Guru terkekeh, yang lain diam.
Saya mulai merasa sombong dan berlebihan.
Guru bilang di sela kebingungan saya.
"Berarti untuk belajar kan?"
Saya langsung sadar, ya.
Semua memang seharusnya untuk belajar.
Sejak awal pun bergabung bersama mereka, saya bilang ingin belajar banyak hal.
Merasa ingin meralat semua jawaban saya.

Hingga saya sadari.
Saya suka kultur, saya suka travelling.
Saat kecil banyak kultur yang saya perhatikan.
Jepang terutama.
Lanjut ke India.
Lalu Rusia.
Kemudian Jerman.
Kenal seorang teman yang bisa bahasa Sweden dan ayahnya menetap di Ceko.
Karena sebuah film saya perhatikan Ukraina.
Lalu saya tertarik pada Cina.
Bekerja pada seorang Korea.
Mitologi Yunani, Romawi.
Sampai pada film favorit yang mengangkat bahasa Finland.

Saya suka belajar itu semua.
Saya ingin keliling dunia!!
Saya ingin bercerita banyak hal.
Hingga hari itu berakhir dan diskusi kami membawa hingga larut.
Guru bilang. "Ga ada habisnya kalo bahas ini, pulang pulang!"

Hari itu membuat saya merenungkan semua kata-kata saya.
Sampai pada, entah hari apa, jam berapa dan waktu apa.
Saya sadar.
Buat apa saya keliling dunia??
Saya belajar, saya menikmati semua pemandangan itu sendirian.
Setelah itu apa??
Tidak ada gunanya jika hanya sekedar melancong sana sini.
Semua orang bisa, itu bukan tujuan saya. Itu nafsu.
Sampai akhirnya sesuatu bilang.
Saya ingin membagikan cerita ini pada anak-anak saya kelak.
Saya ingin menulis. Saya ingin membagi pengalaman saya.
Semua yang pernah saya jalani membawa saya sampai saat ini.

Patah hati, Kekesalan, Kenekatan, Keberanian dan Kesadaran juga Kelembutan.
Kepasrahan.
Akhirnya Tuhan kenalkan saya pada anak-anak itu.
Sebagian dari mereka semua.
Yang di jalan, di kampung, di atas kursi roda, di ambang hidup.
Di pesta, di rumah, dan di dalam gendongan.
Beberapa film memperkenalkan saya pada pendidikan.
Pekerjaan saya dahulu membawa saya belajar tentang seorang pendidik.
Sahabat-sahabat saya.
Mereka semua pendidik.
Saya tidak ingin menjadi seorang pendidik seperti mereka.
Pendidik yang ada di belakang sebuah institusi.
Masih terkekang dan masih belum bisa membebaskan.
Mungkin saya belum benar.
Pendidik yang setulusnya mencintai dan berpihak pada pendidikan anak-anak.

Sampai akhirnya keputusan saya kembali ditegaskan.
Sebuah pertemuan kembali pada pembahasan itu.
Guru kembali bertanya.
Entah memang dia tidak ingat atau ingin mengingatkan saya.
"Jadi apa tujuannya?"
Kali itu saya menjawab tegas.
"Saya ingin keliling dunia. Tapi di setiap tempat singgah saya,
harus ada sesuatu yang saya berikan di sana"
Ia pun mengerti dan tersenyum mendengar penjabaran saya akan mimpi dan tujuan ini.
Saya semakin yakin.
Keluar dari pekerjaan dan saya malah semakin bahagia.
Semakin dekat dengan anak-anak.
Semakin saya menyadari, mimpi dan tujuan yang terkonsep itu semua mungkin.
Saya terdengar gila pasti.

Sampai akhirnya saya menangis karena sebuah terapi yang mengungkap keresahan saya.
Guru kembali menenangkan saya.
"Bingung dan gila itu sebuah tingkatan pemahaman menuju yang tertinggi"
"Einstein, Edison, Newton, dan lainnya mereka semua terkucil"
"Tapi saat mereka membuktikan apa yang tidak mungkin menurut orang saat itu"
"Orang-orang baru percaya dan kini semua temuan mereka bukan omong kosong lagi"
"Jadi beranilah untuk jadi gila dan bingung"
Mereka salah satu sosok inspirasi saya :))





Regards

ailupika
ungkap saja, suatu hari mungkin akan jadi labuhan untuk orang lain.
berkatnya, saya mengenal banyak.

[ Read More ]

Mozart dan Seafood?? Kombinasi Apik

Satu cerita saya dapat dari teman sekantor saya. Mungkin lebih cocok dipanggil mas, karena memang dia sudah berumur dan berkeluarga.

Dalam satu perbincangan di tengah makan malam kami dengan nasi kotak langganan yang tidak pernah lewat, ia bercerita. Panggil saja mas Vin. Saya cukup tertarik dengan sesuatu yang belum pernah saya coba korek darinya. Dia gondrong, agak pendiam mungkin, dan serius kelihatannya, segan saya menyapanya.

Saat berbincang, untungnya ada teman yang lain di sana dan cukup bisa mencairkan suasana beku yang saya dan mas Vin buat.

Berawal dari perbincangan soal Universitas, merembet sampai ke cerita anaknya.

Anaknya hebat, jago main musik, bisa lebih dari 2 bahasa [mancanegara loh ya], ikut program akselerasi, seumur 16 tahun sudah masuk Universitas, dan dia hanya santaaaaiii. Tidak pernah belajar katanya!! Hebat!! Padahal mas Vin ngaku, orang tuanya ga gitu2 amat.

Hebat saya bukan hebat karena dia hebat dalam keakademikan, tapi hebat bagaimana dia menyikapi semuanya. Dia cerdas!!

Langsung saja saya tanya, ko bisa mas? gimana cara bikinnya? kami terkekeh.

Sejak hamil, istrinya selalu diberi makan seafood dan dengar musik Mozart. Sekarang kakak beradik itu sudah bisa memilih negara mana yang mau mereka tuju. Alias mereka malah ditawari guru untuk bisa ikut pertukaran pelajar ke luar negeri.

Woowww!!!

Orang tua yang pintar!!


ailupika

regards
nasib seorang anak tergantung dari orang tuanya.
Mozart terima kasih^^
[ Read More ]

Marginal, Sebuah Memori

Akhirnya saya berhasil mendekati dunia yang sangat saya ingin tau. Saya anggap ini sebagai salah satu pengabulan Tuhan terbesar untuk saya. Sebelumnya, saya ingin ucapkan terima kasih pada pemimpi yang membuat saya bisa mengenal dunia ini.

Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mengenal dunia semacam ini dan saya sangat berharap kalian mau mengajak saya lain kali.^^
Dunia yang kebanyakan orang metropolis itu benar-benar sebuah margin, sebuah batas, sebuah kejijikan, dan tidak layak. Kaum marginal.

Beberapa minggu lalu terhitung sejak hari ini, saya baru lagi merasa bebas, di antara keterkekangan saya.
Bertemu orang-orang dengan latar belakang luar biasa. Bukan dengan mobil mewah, BB atau Iphone, dan beruang banyak (Sepertinya ini kesekian kalinya saya menghardik mereka, suatu saat saya pasti akan sadar mereka juga dibutuhkan, bahkan mungkin saya). Entahlah, atau mungkin saya masih belum menemukan sosok inspirasi dari orang dengan latar belakang semacam itu.
Kali ini, benar-benar dengan latar belakang luar biasa [lagi-lagi menurut saya]. Mereka anak-anak, ya ada juga sekumpulan remaja. Sekumpulan orang-orang bebas. Mereka marginal, hidup di batasan kota. Mungkin tidak tau alamat rumah tepatnya. Hei, ini dalam rangka "Hari Anak Nasional 2011" dan saya terlibat!! Saya sangat bersyukur.

Bimbel Koran, kawasan Buaran?!?



ailupika

regards
ini awal petualangan seru. tunggu saya!!!!^^
[ Read More ]