Showing posts with label kosong. Show all posts
Showing posts with label kosong. Show all posts

{ }


Benar saja apa-apa yang pernah kita perbincangkan, bahwa dunia ini terlalu indah untuk dinikmati. Bahwa hidup ini terlalu biasa dan pendek untuk semua hal yang menjadi harapan.

Mungkin ini rasanya jadi malaikat atau inilah yang dinamakan kematian dan kita di dalam surga?

Apa pun yang kalian katakan, pikiran ini sudah tidak merasakan apa pun. Hanya tetap berjalan beriringan dengan apa yang sudah terpetakan. Kecuali hati yang menggerakan, semua yang menjadi kemauan atau pun bukan sudah menjadi rencana yang tak tersadari telah terpetakan sejak dahulu.

[ Read More ]

Mikrokosmos #02


Di Minggu pagi, saya memaksa pikiran untuk terbang mencari inspirasi. Sesuatu atau apalah namanya, jelas saya sangat ingin menulis. Memanaskan jari jemari, kekuatan otak kanan, menciptakan suasana di mana bisa melayang menjemput imajinasi. Saya sebut dia Mengendap.
Bersedimen

Seketika pun muncul sebuah pikiran bahwa manusia benar-benar replika dari alam semesta. Lapisan permukaan bumi yang bersedimen membentuk batuan yang indah, gurat lapis sisi mengagumkan, sebagian sangat berharga malah. Bukan hanya bicara soal batuan sedimen, bukankah semua batuan pun bersedimen, pengerasan karena endapan.

Usaha pasir untuk mengendap terasing dari butirannya yang lain, secara alami menemukan partnernya yang bersedia mengendap bersamanya. Terus berlatih dari tempaan cuaca dan tekanan pasir-pasir baru. Keras, sama seperti hasilnya. Namun, di dalamnya ia menyimpan rahasia dari yang tidak dialami pasir-pasir lainnya. Meskipun ada faktor lain yang menyebabkan berlian berbeda dengan emas. Seperti kasta, alam pun mengkastakan, mensukukan, menggolongkan. Golongan paling istimewa pasti masih ada di bawah sana, karena ia yang paling sabar menahan tekanan dan suhu sangat tinggi.

Dan biarkan ia tetap di sana, karena tanpanya kita pun tak ada. Sebijaknya manusia, ialah yang paling bijak.
Just like Krishna. He eats the world in his mouth.
That is Microcosmos




Regards

ailupika
mungkin itu sebabnya sedimen mirip dengan semedi, dan manusia masih tetap menjadi mikro replika dari alam


[ Read More ]

Syair Sore dari Nya



Dalam kosong ada isi
Dalam isi ada kosong
Kebesaran dibangun di atas Kesederhanaan
Puncak Kebesaran adalah Kesederhanaan
Irama Hidup Selaras Seimbang
Keraslah pada Diri Sendiri
Kasih Sayang Terhadap Sesama
Tidak Ada Kebencian


Regads

ailupika
Masih dari seseorang yang mengajarkan saya tentang hidup
[ Read More ]

EFT >> Ketukan Nurani


Hikmah selalu ada pada semua yang kita alami, saat mempelajari sesuatu, saat mencoba memahami sesuatu, saat menghindar dari sesuatu, saat mencari sesuatu yang kita anggap benar. Klise saja! Sudah ada sesiapa yang memahami apa maksudnya, saya yakin.

Cerita saya kurang lebih hampir 1 tahun yang lalu atau kurang.
Dimensi di mana begitu dalam, begitu tenang tanpa rasa takut. Saya berpikir saya sudah menemukannya. Ternyata belum. Sama sekali belum, nyaris tepatnya saat itu. Saya belajar banyak hal tanpa rasa puas akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya cari.

Saat itu datang, ketika kebebasan yang saya artikan terancam di dalam dan mereka meronta, berteriak minta keluar. Itu awalnya. Membawa saya ingat untuk kembali ke titik nol, bukan nol yang sebenarnya. Tapi nol yang begini { }. Kesadaran saat itu sudah di ambang batas, batasnya untuk teracaukan oleh dalih kebebasan dan itu membuat kesabaran seolah berbatas. Saya pikir sudah cukup umur, saya salah. Saya pikir sudah bisa bertahan. Saya memang yakin, sangat yakin, itu benar! Saya salah, saat saya membiarkan para monyet berjingkrak pada sistem limbik saya. Saat saya menganggap semua begitu mudah, memang begitu saja seharusnya, bukan makna lain yang harus dialih-alihkan. Memang, pelajaran tidak pernah berhenti. Bahkan, di saat sebuah misi baru saja terselesaikan, Tuhan buat itu seolah-olah lewat pikiran.

Saya sadar saat saya melalui semuanya. Saya hanya mendiamkannya. Pengembangan bahkan tidak ada, muai sekalipun tidak. Saya hanya menyadari, tanpa mencari tau bagaimana menjadi berdaya dan menyengat kembali otak ini dengan kejutan listrik sekian volt yang bisa membuat adrenalin kembali mencuat. Saya mulai terbiasa dengan alih-alih, terbiasa dengan "ya sudahlah". MATI!! KEBAL!! BEBAL!! Saat itu!!

Saya baru ingat, pernah diingatkan sebuah pertanyaan begini, "kebebasan seperti apa yang kamu maksud?"
Saya juga baru menyadarinya, jika dulu saya mengartikan kebebasan itu, saya benar-benar belum menemukan jawabannya. Tak lebih hanya ego. Lalu, saat keadaan saya begitu, saya ingat bahwa dulu saya pernah meminta hal yang sama dengan keadaan saat itu. Saya pernah bertanya di dalam kepala saya yang penuh pertanyaan, "kenapa saya tidak punya pemikiran seperti orang kebanyakan saja? jadi saya tidak perlu lelah jadi orang aneh dengan membawa banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab orang lain" dan Tuhan mengabulkannya, dan kini saya sadar. Saya hanya ingin kembali ke saat permohonan itu belum terlintas di kepala saya. Malah, saya butuh lecutan begitu keras untuk membangkitkan mesin awal lagi. Mungkin akinya soak.

Beberapa hari lalu, benar-benar saya dilecut. Dan itu berhasil membangkitkan kembali semuanya. EFT yang dulu tidak menarik fokus saya, kini saya tau pembelajaran itu benar-benar penting dan sadar bahwa saya bisa kembali kapan pun saya mau. Mereka itu ketukan, sesuatu yang mengetuk nurani. Membangkitkan syaraf dari titik ketukan membawa kejutan ke dalam sistem bawah sadar. Menjangkar kembali semangat. Membangkitkan keyakinan.

Dari semuanya, terlalu banyak pelajaran yang saya dapat dan terlalu banyak pula pelajaran yang saya lewatkan masa itu. Bahkan penyesalan jadi sebuah pelajaran yang bisa diteliti. Selalu ada hal positif dan negatif di setiap situasi. Kita hanya pemilah lalu mengubahnya menjadi lebih positif jika itu masih belum cukup. Yakin!




Regards,

ailupika
Sekarang kembali hambar yang isi. Apa lagi pertanyaannya?!
"Saya menerima perasaan yang saya rasakan saat ini dan saya mencintai diri saya sendiri dan semakin mencintai diri saya sendiri"
[ Read More ]

The Edge of Vortex



Mungkin saya benar-benar sedang menepi. Saya rindu masuk ke dalam pusaran dimensi yang membesarkan. Sebuah rasa yang selalu menjadi euforia umat manusia sepanjang sejarah, kini benar-benar mengabutkan, membuat saya memutuskan untuk menepi. 

Sebuah buku yang baru saya tamatkan sekitar 4 hari yang lalu membuat saya berpikir "semua" itu ada benarnya juga. Manusia dan Orangutan. Sebuah topik yang masuk ke dalam perbandingan kehidupan manusia yang terlalu puitis. Orangutan membuat ikatan dengan keluarganya dan semua yang mereka sayangi sekali saja, meskipun nantinya mereka hidup soliter tanpa siapa pun. Keyakinan mereka bahwa ikatan itu sekali untuk selamanya membuat mereka berpikir, ya mereka memang ada untuk aku selamanya. Jadi tidak perlu khawatir mereka pergi jauh atau pun dekat dengan mereka. Bahkan manusia lah yang berpikir terlalu puitis, berpikir terlampau muluk. Rasa tidak percaya mengacaukan segalanya, rasa takut membuyarkan radar masa depan, dan kekhawatiran menarik mundurnya dari petualangan pusaran dimensi yang super duper luasnya.

Dan saya pikir, bahkan spiritual sejatinya binatang dan tumbuhan itu lebih erat dan lebih dalam ketimbang manusia. Selama manusia tidak sombong bahwa kita ini manusia. Kita semua partikel alam yang sama, hanya disusun menjadi lebih istimewa. Saking istimewanya, kita lupa bahwa kita sedarah sedaging separtikel. Hanya berbeda bentuk, warna, dan bau. Cair, kental, padat, hijau, merah, kuning. Itu keindahan semesta yang dianugerahkan kepada kita. Memang sepatutnya bersyukur.

Ini tepian, yang mungkin melambatkan saya. Tapi lebih dari itu, saya hanya yakin, saya sedang ada di dimensi yang lain. Dimensi yang melarutkan, dimensi yang mengawang-awang, entah dimensi berapa, mungkin lebih rendah atau mungkin lebih tinggi. Lebih rendah karena ini membawa saya pada sebuah kata realitas yang tidak abadi, yang terlihat jelas bahwa saya marah, saya kesal, saya senang, saya bahagia. Namun, mungkin saja dimensi ini lebih tinggi, karena saya hanya bisa merasakannya, mungkin lebih kasat dan lebih halus dari astral. Dimensi berapa pun saya kini, saya tetap harus belajar. 

Hal yang akan selalu saya simpan, bahwa mungkin ini adalah salah satu entheogen yang menjadi kunci untuk saya kembali pada siapa diri saya sebenarnya. Orang tua, Orang sakit, Orang meninggal, dan anak-anak. 


Regards,

ailupika
Pesan-Nya : nikmati saja, tanpa merubah arti sebenarnya.

[ Read More ]

Lamunan




Malam ini rasanya tidak ingin mengkritisi apa pun.
Beku rasanya.
Cuma ingin mendekap sepi.
Berdiskusi dengan si empunya jagad.
Jauh. Benar jauh rasanya.
Hampa yang kini terisi berbeda saat dulu kosong dan bingung.



Regards

ailupika
[ ]

[ Read More ]