Showing posts with label sketsa. Show all posts
Showing posts with label sketsa. Show all posts

Malam Bersama Keripik Jagung


Ahahahahahahahahahahahaahahahaha

***

Shou's Note : Come Back
Bulir
#08. Malam Bersama Keripik Jagung


Malam ini, aku hanya makan sebungkus keripik jagung. Karena ibu sakit dan ayah juga baru saja sembuh dari sakit. Hah..lumayan bisa mengganjal teriakan cacing di perutku. Sebenarnya cara ku yang paling ampuh seperti saat di kost dulu, biasanya dibawa tidur, semuanya jadi lupa. Tapi banyak orang yang bilang, "lo bisa ya, tidur dalam keadaan laper gitu?"haha.. ya bisalah.

Sambil makan keripik jagung, lamunanku kembali menuntunku pada semua kisah hidup yang pernah aku lalui. Akhirnya malah jadi ketawa-ketiwi sendiri. Kekalahan, ketakutan, kekecewaan, kegagalan, yang aku heran kenapa cuma itu yang terbesit dalam pikiranku?? kalau ditelaah lagi, kenapa aku tidak mengingat masa kemenanganku, keberhasilanku. Haha..tambah nyengir jadinya, ngetawain kegagalan diri sendiri.

Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutku, tanpa segelas air, "seret" rasanya tenggorokan ini, tapi ga tau kenapa aku terus saja melahap keripik jagung itu. Dan yang baru saja aku sadari, aku melahapnya tanpa menyadari bahwa aku sedang melahap habis keripik jagung, aku hanya terlarut bersama kisah-kisahku dahulu. Seret di tenggorokan juga jadi tidak terasa.

Aku melihat sebuah foto terpampang di meja kamarku. Foto sahabat2ku. Aku mencoba mengingat semua yang sudah kami lalui, cita-cita, harapan. Dari bayangan itu, aku kembali mengukir mimpiku. Selalu saja dalam bayangan, aku ingin semua bisa terealisasi, bersama mereka tentunya. Lagi lagi aku tersentak, "gue tau kita semua punya jalan yang beda dan ga seharusnya gue paksain lo semua buat jalanin hal yang sama kayak gue". Aku kembali pada masa depanku yang sesaat menjadi masa lalu, hari kemarin, lalu besok, "hah..rasanya mau terus kayak gini" kayak hari ini maksudnya, yang bisa tidur2an dan bermalas2an seharian, itu yang terpikir.

Kalo inget besok, rasanya jadi berat, "ini gimana ya, kalo nanti gitu gimana coba?" halah pertanyaan terus muncul, spekulasi2 busuk yang belum tentu kejadian malah ngegelantung di kepala. Terus kalo mikir kemaren, "ah coba kemaren gini aja, kenapa mesti gitu sih, ah sial, coba bisa di ulang" huff...penyesalan lagi. Negatif terus bawaannya. Yang positif kayanya cuma sekarang dhe..hehe..Nah brarti g usah mikir apa2, bikin aja besok kayak hari ini, dan jadiin kemaren cerita yang bisa bikin nyengir2 kayak hari ini. Seneng banget idup, isinya cengar cengir doang.

Gara2 keripik jagung, aku terhanyut lagi dalam sebuah kekosongan yang membuat aku menyadari sesuatu, bahwa keripik jagung juga makanan ya, yang penting kan ada makanan, jadi ga perlu kesel lagi sama ibu karena ga masak, ga perlu nyesel lagi sama kejadian kemaren, ga perlu takut lagi sama besok, malah kaya orang bego cengar cengir sendiri. Tapi sadar deh, manusia emang super unik!!

Terima kasih keripik jagung^^


Kirana Sephiria
u/ Keripik Jagung
[ Read More ]

Mindeville


Dulu pernah ada keinginan buat seri sketsa bersambung. Mungkin seri lainnya masih saya simpan di box digital mini.

***
Shou's Note : Come Back
Bulir
#07. Mindeville
Tertatih ombakmu..
Merengkuh apa yang dikatakan daratan
Terengah tak berdaya..
Tanpa sosok yang terus berselimut dalam getirmu
Tak usah lagi tawarkan manis
Aku muak..
Jengah,,
Tak dapat berkisah lagi



Regards

ailupika
Hmmm,,,,,

[ Read More ]

Pikiran, Sang Penipu Ulung


Ini gue ambil dari milis di yahoo,,menurut gue tulisannya bagus,,so gue share di sini yooo...

*"Kuperintahkan Kau Untuk Berhenti Berpikirrrr. ...!"
*oleh Made Teddy Artiana
penulis & fotografer

Sebagian orang ketika mendengar atau membaca kalimat diatas langsung berkomentar “Seperti pernah dengar, dimana ya ?”. Sekedar membantu ingatan Anda, saya akan lengkapi kalimat diatas.

“Kuperintahkan kau untuk berhenti berpikir ! Sebab kalau kau berpikir, aku ikut-ikutan berpikirrrr !!”

Bagi mereka yang masih belum dapat mengingat, berikut clue tambahannya. Perintah aneh bin menggelikan diatas diteriakkan oleh seorang jendral –dengan aksen Batak yang kental- kepada bawahannya, lantaran anak buah nya itu saking terbiasa berpikir strategis, sampai-sampai kebiasaannya itu mengusik Sang Jendral.

Anda benar ! Bawahan itu bernama Lukman, sementara Sang Jendral adalah Bang Naga alias Nagabonar.

Adegan unik dalam film klasik Nagabonar ini tidak saja lucu, tapi cukup konyol jika sungguh-sungguh dipraktekkan. Bayangkan : manusia tanpa pikiran apapun diotaknya !

Namun tentunya bukan itu yang dimaksud oleh kalimat yang sebenarnya sarat pesan mendalam tersebut. Bagiku pribadi, yang ingin disampaikan adalah betapa penting kendali pada sebuah kebiasaan yang kadang sangat membantu namun, kadang justru menjerumuskan. Kebiasaan itu adalah : ber-pi-kir.

Serupa tapi tak sama dengan adegan diatas. Andri -bukan nama sebenarnya- adalah salah seorang team leader di wedding organizer yang dikomandoi Wida, istriku, pernah bernasib sama dengan Lukman. Hanya saja tentu bukan Nagabonar yang menyemprotnya, melainkan aku. Betapa tidak, Andri sebenarnya adalah anak muda yag cerdas, banyak sekali hal-hal yang tidak terpikirkan oleh kami namun dapat dideskripsikan dengan lancar olehnya. Parahnya, hanya 20% saja ide yang bernada positif, yang 80% sisanya adalah kecemasan-kecemasan yang bisa saja terjadi dilapangan. “Kalau begini bagaimana ?” atau “Kalau misalnya terjadi anu ?” dan lain sebagainya. Andri spesialis dalam hal itu. Sebenarnya dalam beberapa hal, “keahlian” Andri sangat berguna, karena bagaimanapun antisipasi tentunya sangat dibutuhkan. Namun demikian ketika bersentuhan dengan pisau analistis Andri, sebuah ide se-briliant apapun dalam beberapa menit segera berubah jadi gagasan tolol yang mustahil dilaksanakan. Ini lantaran ide briliant tadi telah dihujani oleh puluhan keruwetan yang telah beranak pinak dikepala Andri. Ketrampilan unik yang mirip dengan pedang mata dua miliknya ini, sungguh-sungguh harus dikendalikan !

Dulu, ketika berkesempatan menggarap proyek buku yang ditulis Bob Sadino, kami sempat berbincang-bincang serius tentang mengapa “orang bodoh” lebih cepat sukses dibanding “orang pandai”. Waktu itu Om Bob “Goblok” Sadino sempat berkelakar : “Orang-orang pintar itu, kadang karena terlalu terbiasa mikir, akhirnya nggak jalan-jalan. Tapi orang bodoh, karena memang sedikit yang dipikirkan ya segera memulai saja. Gimana nati aja deh, kata mereka. Akhirnya orang-orang bodoh itupun sukses. Karena persiapan yang sejati bukan saja dibangun diawal, tetapi justru persiapan sejati itu dibangun ketika kita berani melangkah”

Beberapa orang teman pengusaha dan top manager yang begitu sukses, memberikan tips sederhana berikut untuk kehidupan yang lebih berhasil, yaitu : kendalikan pikiran kita sehingga tetap sederhana, terbuka dan positif. (Ini tentunya tidak sama dengan pengerdilan semua kreativitas yang kita miliki.)

Sepintas ide itu tampak begitu sederhana, cenderung terlalu menyederhanakan hidup yang sseringkali kita hujani dengan kata-kata : “sangat kompleksss” ini. Akan tetapi dalam prakteknya, ternyata tips itu memerlukan derajat ketekunan yang cukup tinggi, sebelum semuanya menjadi kebiasaan yang mendarah daging diri kita. Dan ketika ketrampilan berpikir : sederhana, terbuka dan positif itu mulai Anda kuasai (walaupun belum 100%), dampak positifnya segera dapat dirasakan pada kehidupan kita.

Rupanya jika kita memberikan keleluasaan pada pikiran kita, bukan mustahil maka pikiran itu akan mengaduk-aduk Anda, persis ketika seseorang sedang mencari sebatang sendok yang terjatuh dalam kuali besar sop brenebun. Ia tidak akan berhenti memunculkan keraguan, ketakutan, pikiran jorok, dan lain sebagainya sampai Anda tertidur mumet karena kelelahan. Dan tak jarang mengigil ketakutan membayangkan hal-hal buruk yang terjadi. Intinya : menguras seluruh optimisme yang seringkali memang masih berwujud mimpi yang tentunya tampak belum logis.

Celakanya ketika kebiasaan itu tidak segera kita kendalikan, ia akan berubah menjadi kekuatan raksasa yang sekali sentil, dengan mudah akan meng-KO-kan kita. Mirip seperti ideologi teroris yang tidak segera dipadamkan, kemudian tiba-tiba berubah menjadi bahaya yang agresif yang tidak lagi sekedar mengancam, namun lebih dari itu, berani keluar dari persembunyian, dan terang-terangan menyerang !

Jadi sesegera mungkin agaknya kita harus masuk kearena, bertarung, habis-habisan mengendalikan kebiasaan berpikir kita, mumpung mereka masih imut-imut. Karena percaya atau tidak, seperti perkataan banyak orang bijak : “Pikiran, seperti halnya dengan uang, adalah tuan yang buruk, namun hamba yang baik”. Dengan demikian orang bijak bukan karena banyak, rumit dan kompleks pikiran yang ia miliki, tetapi justru orang bijak adalah mereka yang memiliki kendali penuh atas pikiran mereka. Sehingga mereka mampu mengarahkan pikiran mereka hanya kepada hal-hal yang penting, baik dan berguna.

Menutup artikel yang terasa cukup panjang ini, ada sebuah anekdot yang saya percaya sudah pernah Anda ketahui sebelumnya.

Ketika astronout Amerika ingin pergi ke bulan mereka mendapat sebuah kesulitan, karena pena (pulpen) yang biasa mereka pakai ternyata tidak berfungsi di ruang hampa. Maka NASA melakukan riset beberapa tahun untuk menciptakan tinta hi-tech yang kebal terhadap kondisi ruang hampa. Mereka menghitung sedemikian rupa intensitas, kepatan dan berat jenis tinta tersebut sehingga dimanapun –bahkan diruang hampa- tinta itu tetap masih bisa digunakan.Namun berbeda dngan astronout Rusia, mengetahui tinta umum tidak beroperasi di bulan sana, mereka membawa pensil ! (*)

*what a wonderfull world ! what an exciting journey !! * *Made Teddy Artiana*
http://semarbagongp etrukgareng. blogspot. com
mobile# 081317822720
email# teddyartiana_ photography@ yahoo.com

Profile saya di Majalah Human Capital http://www.portalhr .com/majalah/ edisiterbaru/ bisnis/1id1549. html

Profile saya di di Majalah SWA http://swa.co. id/2009/08/ made-teddy- artiana/

Profile saya di di Majalah Bahana http://www.ebahana. com/warta- 2162-Dari- Hobi-Datanglah- Rejeki.html

Artikel saya di Kompas http://ekonomi. kompasiana. com/2010/ 02/12/testimoni- seorang-mantan- karyawan- bca-resign- dari-tempat- kerjanya
[ Read More ]

Selongsong


Masih dalam rangka memuseumkan tulisan tahun jebot yang semoga bisa jadi inspirasi

***

Kini hanya selongsong kosong..benarkah??tersesatkah??..atau mungkin semu??..sebuah tabir pernah terkuak..namun sekarang..seperti tidak ingat..ingin kembali menyingkapnya..sungguh tidak ingat..putih..tidak..bukan..itu bukan putih..apa??..mengawang-awang..tak ada pijakan..tak ada langit..luas namun sempit..tidak..itu tak berbatas..

Kini marah..takut..bicara saja pada diri sendiri..apa itu??tidak tau..hehe..tanya yg d iluar sana..hei!!..apa?..tidak dengar..kembali lagi diam..tak terucap..dan hilang..menjadi benar-benar dungu..ingin berteriak..silahkan..maaf tidak kenal..hmm..baiklah..sendiri saja..tidak..berpura-pura saja..ya..benar..menyamar..

Lalu kopi itu bercampur susu..itu coklat..bukan..itu kopi susu..itu coklat hangat tau!!..bukan..coba rasa..hangat..benar kan coklat hangat..eennggg...bukan..kopi susu..ini coba..hmm tidak..itu jelas coklat hangat..tidak percaya..ya sudah..tidak bisa tau kalau tidak dirasa..hmm..enak..hei..hei!!coba ini..jelaskan kalau ini coklat hangat padanya..tidak mau..espresso ini lebih enak..ha??..warnanya sama..sini coba..aww..aww..panas..pahit..hahaha..berbeda kan..

Jadi sungguh tersamar ya..berubah jadi orang lain..bisa kembali kah??..tenang..jalan itu sudah ditandai..masih ragu..ini menyenangkan..

Sudah berubah..ingat..tanda itu di dalam sini ya..kotak itu..jaga baik-baik..apa??jauh sekali lubangnya..tidak..pasti bisa ditemukan..kenali saja goresan itu..tinta itu akan terus berbekas..bagaimana kalau ada tinta lain??..pakai saja hidung untuk mengendusnya..baunya tidak akan hilang..tapi..bukan anjing..hahaha..kan bisa jadi apa saja..

Kini kembali selongsong kosong..tapi bukan benar..bukan sesat..bukan semu..ini..hanya kosong.. ..



07052010 - 22.19
ai.lupika

-lihat tanggal dan jamnya, itu asli lho!

[ Read More ]

Surat dari Eva

Ini surat yang sempat lama tersimpan dalam dompet. 
Namanya Eva.
Sore itu, setiap hari Kamis kedatangan saya untuk belajar mengajari adik-adik di sebuah desa yang rutin saya jambangi.
Bicara soal cita-cita dan mimpi memang tak pernah ada habisnya untuk saya. Idealis. Keyakinan lebih tepatnya. Memang tidak mudah dipercayai untuk bertahan dengan semua hal itu.
Memang tak ada ide khusus yang disiapkan hari itu untuk bertemu dengan adik-adik, selain meladeni pertanyaan-pertanyaan mereka tentang matematika dan seputar pelajaran sekolah.
Perlu saya ingat, bahwa mereka yang membawa saya pertama kali terjun ke dunia ini, dunia anak-anak, dunia tanya-jawab, dunia belajar, bagi mereka maupun saya. Sudah sepantasnya saya berterima kasih.

*** 

Eva, tidak pernah puas dengan satu pelajaran. Mereka bercampur jadi satu, SMP, SD dan tingkatnya pun berbeda. Tidak ada sesiapa lagi yang bisa membantu. Membuat saya sempat kewalahan. 
Globalisasi pun bukan hanya terjadi di sana sini. Tapi memang di sini juga. Saya bicara dan menjawab apa pun yang mereka ingin tau, tidak bisa disetarakan.
Jika bosan, mereka yang pilih topik lainnya. Dan akhirnya beginiliah jadinya dengan Eva.

*** 

Seusai belajar tentang mata pelajaran favorit mereka yang masih SD tentang penjumlahan dan pengurangan
-saya tidak sebut Matematika-
karena mereka paling suka itu!!! titik!!
Eva pun diam dan mengawasi teman-temannya yang lain, yang kurang cepat darinya. Dia bengong, dan bertanya dengan saya untuk meminta soal lagi. Tanda dia sudah mulai bosan menunggu teman-temannya.
Kalau disuruh menulis atau belajar yang namanya Bahasa Indonesia, adik-adik terlihat melengos.
Baik!
Eva, coba kamu buat surat untuk kakak ya! Antusias di wajah Eva pun terlihat malu-malu.
Surat kumaha atuh? dengan logat Sunda kasarnya yang kental.
Ceritain cita-cita Eva sepenuh hati untuk kakak.
Hmmm....dia lanjut dengan berpikir, tapi tak pernah mau bilang tidak bisa. Kecuali jika dia tidak suka, baru bilang tidak bisa.
Hmmm...lanjutnya, aku buat puisi aja ya kak! Puisi tentang cita-cita.
Wuih! dalam hati saya, tak ambil pusing, bagaimana pun bentuknya nanti, dia mau berkreasi.
Dan saat selesai, saat saya akan membubarkan kelas sebelum doa sore dimulai.
Tadaaaaaa.....
This is it.....




Regards

ailupika
saya simpan di dompet, saat semangat menyurut dan mereka boosternya!
[ Read More ]

Dimanche


This is SUNday without SUN
I BET it is BETter than sunny day
Becauses I do really love
RAIN!!


Regards,

ailupika
what a foolish freaky funny things #whatever
indeed, nothing



[ Read More ]

Syair Sore dari Nya



Dalam kosong ada isi
Dalam isi ada kosong
Kebesaran dibangun di atas Kesederhanaan
Puncak Kebesaran adalah Kesederhanaan
Irama Hidup Selaras Seimbang
Keraslah pada Diri Sendiri
Kasih Sayang Terhadap Sesama
Tidak Ada Kebencian


Regads

ailupika
Masih dari seseorang yang mengajarkan saya tentang hidup
[ Read More ]

Terlanjur Jatuh Cinta


can I have both?!



Sekitar 3 sampai 4 tahun yang lalu, pernah saya sangat ingin menjadi seorang penyiar radio. Ingin bersuara, tetap di belakang layar saja. Pernah sekali saya coba audisi di sebuah radio daerah Jakarta Timur. Tidak lolos! saya yakin karena saya belum mumpuni.

Sore ini, yak tepat sore ini, sebenarnya beberapa hari yang lalu, sebuah nomer lokal yang saya tidak kenal terus menghubungi saya, tak dinyana, tak pernah lagi berharap, saya pikir sudah hangus dimakan spam e-mail, dan di saat saya sudah sangat jatuh cinta dengan kreativitas mengajar, jatuh cinta dengan celoteh anak-anak, di saat saya sudah siap untuk mengatur kelas saya sendiri. Kini! mereka bilang saya dapat invitation untuk datang ke radio. Sebuah radio yang pernah menjadi harapan saya untuk belajar menjadi seorang penyiar, bersuar, tanpa wajah di hadapan. Saya memang sempat gigih untuk terus mencoba bergabung. 

Jika pun bisa, saya tetap ingin menyampaikan apa yang ada di dalam sini. Not because we are good then we happy, but because we are happy then we can be better.


Regards,

ailupika
saya masih terus berjalan anak-anak, saya akan sampai cepat atau lambat





[ Read More ]

Critically Freedom



Yak. Selamat Pagi!!!
Di luar masih hujan, lebat bahkan sementara rencana hari ini semoga bisa tetap berjalan.

Baiklah. Apa yang ingin saya ceritakan di pagi yang hujan ini ya?? Hmm.. pastinya sebelum saya menulis sudah ada lintasan sekilat di benak saya. Saya rasa, saya ingin bercerita bagaimana rasanya jadi seorang relawan dan menjalani hidup seperti yang saya tempuh sekarang.

Yap. Saya terbilang sangat baru di bidang ini. Seperti seorang fotografer amatir yang baru punya kamera. Eh, klo dibilang fotografer terlalu hebat kalo baru punya kamera. Okelah, terserah bagaimana kalian memposisikannya. Pokoknya saya freelancer saat ini.

Mulai September usai dan bulan berganti Oktober tahun 2011 lalu, hidup saya mulai berubah karena sebuah kenekatan. Hihi. Saya keluar dari tempat kerja saya, yang notabene sebuah stasiun TV. Karena saya melihat media saat ini terlalu keras dan terlalu membuat orang menjadi terlalu bereuforia dan membuat saya merasa sesak karena terikat. Saya urungkan keinginan saya untuk bisa belajar banyak di perusahaan media tersebut saat itu, mungkin ada kesempatan yang lebih menyenangkan untuk saya belajar banyak tentang media.

Memang saat itu bulan puasa, dan saya seorang muslim dan kalian tau apa? Target saya memang keluar dari sana dan berleha-leha di bulan puasa itu. Hihi. Dan Abrakadabra!! Terkabuuulll...

Satu bulan persis saya menganggur, ada rasa khawatir akan hidup saya kedepan. Apakah saya akan menyusahkan orang tua saya. Uang bekal sisa gaji dan tabungan bisa bertahan sampai kapan kalau begini. Untung saja saya ingat, kalo punya satu tujuan itu fokus sama tujuannya saja, bukan menganggap setiap kejadian itu adalah proses, karena bisa jadi itu adalah godaan. Yah, karena saya yakin itu hanya melemahkan saya, saya pilih untuk menepisnya. Di bulan itu, saya luntang lantung mencari LSM yang siap menampung saya. Seorang amatir yang mau sok sokan jadi seorang sosial sejati. Hmm.. syukurnya, saat itu saya memang masih memegang satu pekerjaan saya jadi seorang helper untuk sebuah web.

Sebulan itu, saya coba dan saya menguatkan idealis saya bahwa pasti ada jalan sampai ke tempat di mana saya bisa belajar banyak hal untuk mimpi saya. Saya sempat datang ke sekretariat PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia), masuk ke CMM (Centra Mitra Muda)nya, merasakan siaran di sebuah radio, meskipun tidak lama. Di saat yang bersamaan pula, di bulan yang sama, sebuah rumah singgah kembali menggerakan saya untuk bisa bergabung menjadi tenaga pengajar di sana. Rumah singgah yang dulu pernah menjadikan saya kakak pendamping dalam Event Jambore Sahabat Anak. Masih di bulan yang sama, saya juga memutuskan untuk membantu sebuah yayasan anak cacat di Cileungsi untuk menjalankan program CSRnya yaitu, mengajar anak desa sekitar.

Sudah, ketiganya saya jalani, sambil saya iseng mengirim lamaran saat saya sudah merasa mantap jadi seorang guru SD. Berbagai macam lamaran, dari mulai guru bimbel, guru playground, guru SD sekolah islam saya tolak atas pertimbangan, saya masih harus mengajar di tempat tersebut.

Tau apa yang saya pikir ketika saya memutuskan untuk mengajar? Pasti tidak, iya ini mau saya beritahu. Sejak dulu saya terbilang sangat anti untuk bisa bicara di depan umum. Ini saya jadikan motivasi untuk bilang bahwa saya bisa. Lalu, saya tau saya bukan orang yang berlatar belakang seorang pengajar. Sempat saya dilema memutuskan ini dan bertanya sana sini atas keputusan saya menjadi pengajar. Sampai saya merasa, bahwa mengajar itu berbagi, mengajar itu bercerita, mengajar itu bermain. Dan saya tau, saya mengajar karena hati saya yang memanggil.

Sudah berjalan hampir 5 bulan. Rasanya kadang terasa sesak, karena uang yang saya punya tidak sebanyak yang mereka dapat. Makan seadanya, menikmati apa pun yang ada di depan mata padahal ingin ini itu. Haha. Namun saya yakin, Tuhan tidak membiarkan saya kesulitan dan saya pahami, ini jalan untuk mengontrol nafsu di antara euforia kota besar. Selalu ada sisa uang sesedikit apa pun untuk ditabung. Rasanya, jadi sudah terbiasa. Kadang merasa bersalah kalo yang saya ajar tidak mengerti apa yang saya jelaskan. Kadang merasa semangat, sampai mencari segala macam tutorial kemana-mana. Kadang bosan, Kadang down jika harus mendengar mereka mengulang pelajaran, kadang harus berkorban untuk memberikan sedikit reward, kadang kadang kadang...ya kadang, dan semua kadang itu harus menjadi makanan saya untuk terus belajar tentang orang-orang, hidup, diri sendiri dan Tuhan. Semua rasa masih berubah-ubah. Saya harap, saya masih punya rasa yang sama saat awal itu pada mimpi saya yang satu itu juga yang lainnya.


Regards

ailupika
Menjadi volunteer itu menjadikan saya belajar banyak hal tentang orang-orang, hidup, diri sendiri dan Tuhan.
[ Read More ]

06.07



Apakah anda sering memergoki beberapa angka yang sama secara terus menerus??

Hmm.. Sudah saya sadari sejak lama, tapi cuma berpikir itu mungkin memang sedang pas nya saja.

06.07
Angka ini sering sekali saya pergoki setiap pagi di jam digital, mau jam digital leptop, handphone, atau pun jam tangan saya. Tidak setiap hari memang. Kebiasaan saya meletakkan handphone di sebelah bantal setiap saya tidur malam hari membuat saya setiap pagi tidak mengecek jam lewat jam dinding atau pun weker. Berhubung kebiasaan saya tidur dalam keadaan gelap, kalo pakai handphone kan tinggal tekan tombol mana pun,,wuzzz...lampu yang silau langsung menyala dan langsung saja saya tau jam berapa.

Ini terjadi sejak saya SMA. Saya lebih sering memergoki angka ini setiap paginya. 06.07. Jam enam lewat tujuh menit. Ya. Kadang saya teringat ulang tahun salah seorang teman yang jatuh pada tanggal 6 Juli. Hmm..langsung saja saya pikir saya teringat dia saja awalnya. Tapi fenomena ini berlangsung hingga kini, hingga 2 hari yang lalu saya memergoki angka ini di jam leptop. Gak ngerti juga sih kenapa. Kadang juga kalo pikiran lagi ngelantur dan main kemana-mana, saya sempat berpikir kalau itu jam kematian saya, atau tanggal kematian saya. Hahahaha... Kadang saya juga berpikir bahwa itu angka keberuntungan saya. Hahahaha...

Semoga tidak ada arti apa pun, sebaiknya kalau pun ada ya arti yang baik. Atau itu nomer togel, nomer buntut, nomer rumah masa depan di new york dengan nomer area 607, atau nomer seri mobil peugeout 607 yang nantinya bakal jadi milik saya..hmm..nggak tau lah apa. hihi.. Semoga kalau pun punya arti dan makna di balik semuanya itu berujung baik. Amiiiiinnn...



Regards

ailupika
cerocos sebut saja #fenomena hidup saya yang unik
[ Read More ]

Rindu Djakarta Tempo Doeloe



Malam kemarin niat saya untuk datang ke sebuah festival, hmm.. sebut saja Jejepangan itu Hellofest 8. Mengalami perubahan haluan. Hehe. Sore itu, saya dan sepupu yang notabene bawa temannya yang punya six sense itu membuat kami melancong lebih jauh dari rencana awal. Mungkin ini sebuah kritikan juga untuk crew hellofest untuk menggelar acara sebesar ini di outdoor saja supaya ga bejubel kaya kemaren. Niat mau hunting foto pun batal. Melihat kondisi yang membuat kami bertiga sesak napas. Kami memutuskan untuk cabut dari hellofest dan kembali malamnya. Dan kami melanjutkan perjalanan kami ke daerah Sabang.Sabang 16 Coffee Shop.
Di sini kami memulai ocehan ngawur sampai terus kami kelelahan pulan di dalam bis kota. Yak! ceritanya begini.

Selepas dari Balai Kartini di mana Hellofest diselenggarakan, kami cabut ke daerah Sabang. Awalnya saya pikir itu tempat tongkrongan yang ramai orang. Maklum malam minggu pasti ramai. Ingat kuliner yang seru-seru di sana berhubung sempat terpikir gagal ditraktir Okonomiyaki sama Indri..Huaaa!! ya semoga terbayar. Hehe. Kurang lebih setengah jam kami sampai di daerah Sabang dengan bermodal busway. Kami turun di depan kantor Ayah saya ternyata lalu jalan lagi kira-kira 1 km. Bhahahahah..benar-benar sehat hari kami kemarin.

Yak! sampai! Oooo ternyata bukan tempat tongkrongan yang saya bayangkan, tapi sebuah coffee shop bernuansa Tempo Doeloe. Oke. Saya suka nuansa yang agak remang dan vintage. Menu pun kami pesan. "Teh tarik!! memang andalannya coffee shop itu" kata sepupu yang cukup sering datang ke sana.

Panjang kami berkicau dan membuat ribut suasana di sana padahal saya baru kenal si paranormal bernama Catur itu. Haha. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak kembali ke Hellofest dan memilih luntang-lantung di daerah Thamrin. "Nanti ya kita jalan habis magrib" kata mereka menyarankan. "Oke" jawab saya.

Selepas magrib, kami mulai menelusuri jalan. Masuk Mall 1 ke Mall lainnya. "Jangan mall ah! lieur gue ke mall" sambar saya. "Iya nih, gue juga abis apaan yak di sini?" kata kak Catur. "Di belakang EX kayaknya ada lampion-lampion gitu deh, hunting foto di sana aja nyok!" saut sepupu saya. Kami pun tertarik dan agak berpikir juga sih. Okelah kami meluncur ke sana, ya pastinya jalan kaki. Hehe. Maklum yang jalan sama saya semalam petualang semua. Kira-kira 500 meter, naik turun tangga penyeberangan, dan kami sampai di EX. EX itu mall di daerah Thamrin sana lah. Setelah disadari koq kita lupa tujuan kita ke sana buat liat lampion ya. Hmm. malah muter-muter mall gak jelas.

Nah pembicaraan berat kami dimulai dari sini. Luntang-lantung jalan sana sini, yang kami lihat cuma cina. Hadeh. Cina modis dengan rambut super lurus dipotong segi, kalo digerai ke belakang bentuknya sampe segitiga gt. Pasti tau lah. Dengan palm shoes dan rok mini. Kulit putih tanpa pigmen. Hadeh. "Yaelah, pusing gue ke sini, ngeliat orang gayanya sama semua" saut saya. "Ember" mereka menyaut dan dari situ mulai panas. Hehe. "Waahh rasis lo!!" kata kak Catur.

"Bukan rasis kak! kita ini di Indonesia atau di Korea atau di Cina ya? jadi kayak gak punya identitas diri" protes saya.

"Bener-bener banget. Gue juga mikir gitu sih! Toss!" sambung kak Catur.

"Pake kebaya aja" kata sepupu saya.
Kami pun mulai sedikit tutup mulut karena di sekitar kami adalah mereka. Huff!! Mungkin terdengar iri ya, karena mereka punya kulit yang mulus, suerrrrr!! saya cuma miris melihat kondisi bangsa. Idealis saya mungkin memang kelewatan. Mereka sebut nasionalisme, nyatanya gak ada sama sekali. Cuma fashion, euforia, dan penjajahan yang saya lihat. Lirik sana sini cuma barang-barang yang bisa dibeli serauk di pasar baru ini mulai dari 500ribu. Suerrr gak kuat di sana lama-lama. Kami pun memutuskan untuk keluar dari mall. Agak norak ya klo lo semua baca ini. Haha.. Akhirnya kami memutuskan untuk karaoke dan bicara soal kaum gay di Sarinah sambil makan kentang goreng. Malam itu rasanya kami seperti akan menulis sekuel buku Jakarta Undecover. Hmm..

Kemana suasana Jakarta yang bersahabat? yang hangat penuh dengan orang-orang betawi dengan nada bicara yang nyablak? Mereka tersingkir..tidak tidak..alias terjajah. Kenapa Jakarta jadi gak nyaman begini? gak nyaman nyari duit? maka itu saya putuskan untuk jadi seorang freelancer, karena jamannya sudah beda.

Haduh koq cerita saya jadi gak to the point gini ya? Lain kali ya..saya perhalus dulu kata-katanya, karena sekarang masih emosi. Jadi gak ada yang sakit hati.. Hahaha..

Regards,

ailupika
Waaaa!! Rindu keramahan Jakarta tempo doeloe. Bahkan kafe yang menyajikan nuansa tempo doeloe tidak seramah tempo doeloe.
[ Read More ]

Body Can Talk Also


Dear Body,

How are you??
Sorry for ignoring you day by day.
And i just realize that you really mad of me now.
Sorry for being late to know.

I shouldn't ask your condition, actually.
Cause i feel it too.
I feel this case.
It is hurt.

That day, when it was getting bad.
I was ignoring you.
After that day, we were getting worse.
I was still ignoring you.
And by such a long time.
I always care of me.
I forgot you.
We should live together, honestly.
But now, we're just getting worst.

Now, my skin, my head, my leg, my face, and all of part of ours.
Their mad.
Thank you for told me last nite.
I supposed know.
That you need me to reach something that you need.
And i need you to reach something that i need too.
But us, as human are too blowed with a little happiness.
And we are getting unstable, unbalance, then we sick.

Now, i really really want to say that i regret.
Thank you very much to you.
Thank you very much cause you bring me to this condition.
Lets talk everyday.
And please, remind me time by time.
Thank you.


regards,

ailupika
best regards and sorry for you, dear body. Guys!! come on hear your body's voices

[ Read More ]

Semarang 6 Hari

Yap.. ini..sampai akhirnya saya di Semarang..
Event 4 hari ini membawa saya 6 hari jadi orang Semarang. Tanggal 8 Desember 2011 - 13 Desember 2011. Diklat untuk para pustakawan di daerah Jawa Tengah ini membawa saya sedikit mengenal Semarang. Alhamdulillah..ke Semarang dengan Flight pertama kalinya. hehe.. sampai si pacar bilang, alhamdulillah ya ini yg kedua kali kamu naik pesawat. Ngek??!!
Emang bener sih, yang pertama dulu waktu gratisan ke Bali. hihi.. hidup gratisan!!!Nyok.. cekidot!!
Nih partner in crime saya. Si mbeeeetttt!! hahaha...
Sudah 2 event kami kerja bareng. Ini saya ambil saat kami sedang menunggu pesawat yang akan menerbangkan kami ke Semarang.

@Bandara Soetta Kamis, 8 Desember 2011 -->> hampir pukul 08.00 pagi.


Perjalanan memakan waktu 50 menit ngaret dikit sepertinya. Dengan pesawat Lion Air 900 ER. Sayang tidak ada ilustrasinya.


Yap. Sampailah akhirnya di Semarang. Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Saya juga tidak sempat mengambil gambar karena membawa barang yang cukup banyak. Sampai di bandara, kami sudah dijemput taxi hotel. Waaaahhh!! petualangannya keren. Seperti boss!! suer ga ngeluarin uang yang berarti. Alhamdulillaaahhh...

Sampai di taxi hotel, saya baru bisa mengeluarkan camera dan mulai jeprat jepret. Keluar dari Bandara saya terheran, banyak sekali TNI dengan trontonnya yang khas. Humm,,tanya tanya ternyata memang bandara itu bergabung dengan semacam tempat latihan TNI atau lebih tepatnya milik TNI. Kurang jelas juga sebenarnya. Nih dia ada ambulance TNI.

Baliho raksasa ini terpampang persis saat keluar dari area bandara. Sepertinya roman-roman Seagames lalu masih terasa.


Ini beberapa spot yang eyecatching bagi semua orang yang baru sampai di Semarang.

Yang saya tau cuma Tugu Muda namanya.
Itu gambar yang ada bambu runcingnya.
Tugu itu cukup jadi spot patokan di Semarang kalo kita nyasar. Dan satu lagi, Semarang jauh dari yang namanya macet. Sueerrrr.. Angkot pun sedikit, taxi pun murah. Berbeda jauh sama Jakarta.

Sebenarnya ada 1 spot lagi yang terkenal di Semarang, tapi sayang saya tidak sempat mengambil gambarnya. Namanya Simpang Lima. Bentuknya semacam bundara besar, seperti bundaran HI dengan 4 persimpangan yang mengubungkan satu daerah ke daerah lainnya. Di pinggirnya ada masjid besar dan banyak tukang makanan. Konon sebelum Simpang Lima dirapihkan dan belum pake birokrasi gono gini, tukang makanan lebih banyak lagi dan itu jadi spot turis yang paling ramai. Sekarang sudah dilahap sama Mall dan hotel hotel mewah. So pity!!

Saya sempat makan yang namanya tahu gimbal. Bentuknya itu, seperti semacam ketoprak. Pake lontong, tahu hangat, bakwan udang, toge, kecap dan bumbu kacang + kerupuk. Seperti petis ya, hanya saja bumbunya bukan bumbu petis. Yah begitulah.

Di hari terakhir, kami jalan beli oleh-oleh muter sana sini bareng supir taxi, huaaa tangan kami penuh dengan gembolan. Komentarnya : cukup puasssss!!! hohoho...



regards,


ailupika
Semarang itu sepi dan gak macet. Seandainya Jakarta begitu. Soon.
[ Read More ]

My First Workshop


Yeayy!! Sudah sekitar 2 bulan saya berkutat dengan dunia ajar mengajar. Ini satu gebrakan yang menarik untuk diri saya tentunya. Sebuah tender workshop dari Dinas Perindustrian yang pesertanya adalah kelompok UKM. Kalian tau apa itu UKM?? yak!! Usaha Kecil Menengah. Humm meskipun begitu mereka ini para bos dan sayaaaa...eng ing eng.. punya kesempatan untuk mengajar para bos ini!! waaa... *lebay*

Atas ajakan seorang teman yang juga saya anggap sebagai seorang guru. Bapak Kinta Mahadji. Inspirator saya untuk menjadi seorang freelancer. Saya akhirnya bisa berkesempatan mengembangkan diri saya dengan mengajar workshop semacam ini.

Ini pengalaman yang luar biasa. Tanggal 22 November - 26 November 2011 di hotel Mega Matra, Matraman, Jakarta, workshop ini berlangsung. Dari dua bidang yaitu Wordpress yang mewakili web dan Photoshop yang mewakili desain, saya mengajar bidang Photoshop. Dua hari dari lima hari saya berdiri di depan dan memandu mereka tanpa Kinta. Perjanjian awal yang menjadikan saya hanya sebagai asisten pengajar, membuka kesempatan saya untuk bisa menjadi pengajar. Meskipun saya tidak full mengajar, di sini pula saya kembali merasa bahwa meskipun ilmu yang diberikan tidak banyak dan tidak seprofesional yang dibayangkan, tapi secuil itu sangat berharga untuk orang lain. Ini semakin menambah rasa percaya diri saya untuk terus berani tampil di depan banyak orang.

Tidak mudah mengajar dengan suasana yang agak menjurus heterogen. Ada sebagian yang sudah mengenal basic photoshop ada pula yang belum sama sekali. Merasa kurang sreg karena tidak dinyana bertemu dengan teman satu kampus dulu yang jurusannya lebih banyak belajar desain. Waaa.. dag dig dug. Harus sabar-sabar dan harus ekstra memberi pengertian mengenai materi yang diajarkan.

Tapi apa pun yang saya lakukan dalam mengajar, secuil apa pun. Saya bersyukur karena menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar dari orang kebanyakan. Terutama mimik kepuasan dari yang diajar. Sangat waaaaaahhh sekali!!

Terima kasih atas kesempatannya Kinta :)
Ga nyangka euy, ilmu selewengan dari jaman kuliah dulu lebih berguna dari yang tidak diselewengkan. Kita ini domba-domba yang tersesat. Hahahahahahaha. Ayo belajar lebih banyak lagi guruuu...

saya sebelum berangkat ke tempat workshop @,@!!! ga ada maksud sih!!! hihi.. karena belum ada kenarsisan saya di workshop ini. tsaaaaahhh!!! gubrak!!



Regards

ailupika
dahsyatnya beramal meskipun secuil. ini baru permulaan. Semangaaattt!!
[ Read More ]

Ini Sebuah Labuhan




Entah sejak kapan saya terbesit untuk bisa mengenal anak-anak lebih.
Entah sejak kapan mereka membuat perasaan saya mengalun begitu lembut.
Seorang guru bertanya tentang tujuan saya.
Saya berpikir dan kembali bertanya sebelum menjawab pertanyaannya.
Apa tujuan itu sama dengan cita-cita?

Guru tertegun dan mulai memecah antara cita-cita dan tujuan.
Ia diam sejenak.
Akhirnya mulai terdengar kata dari mulutnya.
Sebenarnya sama saja.
Sama tapi tidak sama, itu yang saya lihat dari wajahnya.
Namun dia tetap dengan wajahnya yang buat saya penasaran.
Saya pasang muka yang terbaca : "Sepertinya tidak begitu"
Kawan yang lain pun membaca mimik itu.
Cita-cita itu lebih duniawi <<-- kata kawan.
Sementara guru masih diam. Kali ini ditambah angguk-angguk.
Saya pun diam, sementara kawan lain seolah terbuka pikirannya dan menimpali.
"Iya, kalau tujuan itu lebih spiritual"
Alis saya makin mengernyit.
Tapi saya mengerti maksudnya.

Guru tetap diam dan angguk-angguk.
Saya pun mulai menjawab dengan simpulan dari para kawan.
"Saya mau keliling dunia"
Guru terkekeh, yang lain diam.
Saya mulai merasa sombong dan berlebihan.
Guru bilang di sela kebingungan saya.
"Berarti untuk belajar kan?"
Saya langsung sadar, ya.
Semua memang seharusnya untuk belajar.
Sejak awal pun bergabung bersama mereka, saya bilang ingin belajar banyak hal.
Merasa ingin meralat semua jawaban saya.

Hingga saya sadari.
Saya suka kultur, saya suka travelling.
Saat kecil banyak kultur yang saya perhatikan.
Jepang terutama.
Lanjut ke India.
Lalu Rusia.
Kemudian Jerman.
Kenal seorang teman yang bisa bahasa Sweden dan ayahnya menetap di Ceko.
Karena sebuah film saya perhatikan Ukraina.
Lalu saya tertarik pada Cina.
Bekerja pada seorang Korea.
Mitologi Yunani, Romawi.
Sampai pada film favorit yang mengangkat bahasa Finland.

Saya suka belajar itu semua.
Saya ingin keliling dunia!!
Saya ingin bercerita banyak hal.
Hingga hari itu berakhir dan diskusi kami membawa hingga larut.
Guru bilang. "Ga ada habisnya kalo bahas ini, pulang pulang!"

Hari itu membuat saya merenungkan semua kata-kata saya.
Sampai pada, entah hari apa, jam berapa dan waktu apa.
Saya sadar.
Buat apa saya keliling dunia??
Saya belajar, saya menikmati semua pemandangan itu sendirian.
Setelah itu apa??
Tidak ada gunanya jika hanya sekedar melancong sana sini.
Semua orang bisa, itu bukan tujuan saya. Itu nafsu.
Sampai akhirnya sesuatu bilang.
Saya ingin membagikan cerita ini pada anak-anak saya kelak.
Saya ingin menulis. Saya ingin membagi pengalaman saya.
Semua yang pernah saya jalani membawa saya sampai saat ini.

Patah hati, Kekesalan, Kenekatan, Keberanian dan Kesadaran juga Kelembutan.
Kepasrahan.
Akhirnya Tuhan kenalkan saya pada anak-anak itu.
Sebagian dari mereka semua.
Yang di jalan, di kampung, di atas kursi roda, di ambang hidup.
Di pesta, di rumah, dan di dalam gendongan.
Beberapa film memperkenalkan saya pada pendidikan.
Pekerjaan saya dahulu membawa saya belajar tentang seorang pendidik.
Sahabat-sahabat saya.
Mereka semua pendidik.
Saya tidak ingin menjadi seorang pendidik seperti mereka.
Pendidik yang ada di belakang sebuah institusi.
Masih terkekang dan masih belum bisa membebaskan.
Mungkin saya belum benar.
Pendidik yang setulusnya mencintai dan berpihak pada pendidikan anak-anak.

Sampai akhirnya keputusan saya kembali ditegaskan.
Sebuah pertemuan kembali pada pembahasan itu.
Guru kembali bertanya.
Entah memang dia tidak ingat atau ingin mengingatkan saya.
"Jadi apa tujuannya?"
Kali itu saya menjawab tegas.
"Saya ingin keliling dunia. Tapi di setiap tempat singgah saya,
harus ada sesuatu yang saya berikan di sana"
Ia pun mengerti dan tersenyum mendengar penjabaran saya akan mimpi dan tujuan ini.
Saya semakin yakin.
Keluar dari pekerjaan dan saya malah semakin bahagia.
Semakin dekat dengan anak-anak.
Semakin saya menyadari, mimpi dan tujuan yang terkonsep itu semua mungkin.
Saya terdengar gila pasti.

Sampai akhirnya saya menangis karena sebuah terapi yang mengungkap keresahan saya.
Guru kembali menenangkan saya.
"Bingung dan gila itu sebuah tingkatan pemahaman menuju yang tertinggi"
"Einstein, Edison, Newton, dan lainnya mereka semua terkucil"
"Tapi saat mereka membuktikan apa yang tidak mungkin menurut orang saat itu"
"Orang-orang baru percaya dan kini semua temuan mereka bukan omong kosong lagi"
"Jadi beranilah untuk jadi gila dan bingung"
Mereka salah satu sosok inspirasi saya :))





Regards

ailupika
ungkap saja, suatu hari mungkin akan jadi labuhan untuk orang lain.
berkatnya, saya mengenal banyak.

[ Read More ]

PREsent PAst futuRE




Rindu kesepian seperti dulu. Dulu saya ingin diri saya yang jauh dari dulu. Sekarang ketika diri yang dulu kembali, saya ingin kembali seperti sebelum dulu.

Apa pun perbedaan waktunya, semua sama saja.

Dulu | Sekarang | Nanti

Kemarin | Kini | Esok

Keinginan manusia selalu saja yang tidak ada.

Kemarin ada, mungkin Kini tidak ada. Namun rindu akan adanya kemarin itu wajar.
Esok ada, Kemarin pasti sudah tidak ada Kini. Namun pengharapan untuk besok ada pada Kemarin.
Kini ada, mungkin Esok tidak ada. Tergantung pengharapan Kini yang Esok menjadi Kemarin.



Regards

ailupika
ingat pepatah rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri.
jadi buatlah rumput kita jauh lebih hijau dari siapa pun. Yakin. Bisa!


[ Read More ]

Kutipan "Cat Hitam Berjari Enam"


Di kepalanya ada setan. Yang dengan tiba-tiba menggerakkan tangan. Membuatnya meraih cat minyak warna hitam. Lalu ke atas kanvas dia torehkan. Tapi mendadak dia terpaku diam. Bingung. Bertanya dalam hati, apakah benar bahwa tidak ada aturan dan segalanya dibolehkan?

Djenar Maesa Ayu & Enrico Soekarno


regards

ailupika
saya temukan makna lain mungkin dan saya suka prolog ini mba Djenar
[ Read More ]

Mungkin Hanya Rindu


Tepat malam tadi, saya memimpikan wanita kecil gembil tua dan ringkih, eyang putri. Tidak banyak yang bisa saya ingat. Saya cuma ingat bagian terakhirnya saja. Mimpi itu membawa saya ke rumah eyang, saat itu saya ingin pulang selesai berkunjung. Sebelum pulang dan berencana main nyelonong saja, saya teringat. Ah pamit dulu sama eyang. Langsung saya putar arah dari bawah tangga ke arah kamar eyang putri yang saat itu saya bisa merasakan kesepiannya karena rumah itu benar-benar sepi dan eyang kakung juga baru saja berangkat duluan menghadap sang pencipta.

Saya berjalan sedikit mengendap ke arah kamar, karena khawatir eyang putri sedang tidur dan membangunkannya. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan kedatangan eyang dari dalam kamar. Eh Eyang! tapi tidak lama, saya melihat seseorang dari luar seperti baru pulang dan segera masuk ke pagar rumah. Nah? itu kan eyang uti. Saya sempat berpikir, kalo itu eyang putri jadi yang benar yang dimana?? yang disebelah saya atau di luar sana? kalo yang di dalam ini setan, tapi kenapa ekspresinya datar seperti tidak ada apa-apa dan ingin bilang, ini eyang. Tapi saya masih bingung dan ketakutan. Sampai akhirnya eyang putri yang dari luar masuk ke dalam lalu melepas jilbabnya tanpa ada penjelasan apa pun. Benar saja, itu bukan eyang putri, cuma mirip tapi siapa dia dan kenapa ada di sana seolah sudah dekat dengan eyang putri.

Eyang putri tidak memberikan respon lebih dari kejadian itu, saya pun kembali tenang karena tau siapa yang asli. Langsung saja saya pamit dan mencium tangan eyang. Terakhir sebelum saya pulang, eyang pesan begini. Itu mau dibawa uang 100.000 dari eyang kakung??

Saya kembali bertanya dalam hati. Eyang kung kan udah meninggal? uang 100.000?? Saya pikir itu semacam basa-basi dari eyang uti yang mau kasih saya uang tapi tidak mau dibilang merepotkan. Langsung saja saya bilang, ga usah yang? ma kasih. Tapi eyang putri dengan ekspresi datarnya menunjuk ke arah kamar. Iya itu uang 100.000 dari eyang kung.

Setelah itu saya tidak tau apa saya menerimanya atau tidak. Saya terbangun dari tidur malam itu.

Entahlah...
Beberapa hari ke belakang saya jadi sering memimpikan banyak hal.



regards

ailupika
mungkin hanya kangen sama eyang^^
[ Read More ]

Tweenimisme


Percaya gak, kalo Tuhan buatkan replika untuk diri kita di dunia ini. Namun, di antara replika tersebut, gak mutlak semua sama. Wow!! Perbandingannya 1 : berapa ya??

Ada yang bilang, seseorang punya kembaran dirinya di dunia ini sebanyak 7. Entahlah! Yang jelas saya merasa sudah menemukan beberapa kembaran saya. Kadang, kami mengalami hal sama di saat yang sama, kami memikirkan hal sama di saat yang sama, kami juga merasakan hal yang sama di saat yang sama. Ada yang hanya sebatas itu, ada juga yang sampai gayanya sama, kesukaannya sama.



Regards

ailupika
sebenarnya bukan hal penting, hanya saja seorang yang mungkin kembaran buat saya memutar pikiran malam ini.



[ Read More ]

Mozart dan Seafood?? Kombinasi Apik

Satu cerita saya dapat dari teman sekantor saya. Mungkin lebih cocok dipanggil mas, karena memang dia sudah berumur dan berkeluarga.

Dalam satu perbincangan di tengah makan malam kami dengan nasi kotak langganan yang tidak pernah lewat, ia bercerita. Panggil saja mas Vin. Saya cukup tertarik dengan sesuatu yang belum pernah saya coba korek darinya. Dia gondrong, agak pendiam mungkin, dan serius kelihatannya, segan saya menyapanya.

Saat berbincang, untungnya ada teman yang lain di sana dan cukup bisa mencairkan suasana beku yang saya dan mas Vin buat.

Berawal dari perbincangan soal Universitas, merembet sampai ke cerita anaknya.

Anaknya hebat, jago main musik, bisa lebih dari 2 bahasa [mancanegara loh ya], ikut program akselerasi, seumur 16 tahun sudah masuk Universitas, dan dia hanya santaaaaiii. Tidak pernah belajar katanya!! Hebat!! Padahal mas Vin ngaku, orang tuanya ga gitu2 amat.

Hebat saya bukan hebat karena dia hebat dalam keakademikan, tapi hebat bagaimana dia menyikapi semuanya. Dia cerdas!!

Langsung saja saya tanya, ko bisa mas? gimana cara bikinnya? kami terkekeh.

Sejak hamil, istrinya selalu diberi makan seafood dan dengar musik Mozart. Sekarang kakak beradik itu sudah bisa memilih negara mana yang mau mereka tuju. Alias mereka malah ditawari guru untuk bisa ikut pertukaran pelajar ke luar negeri.

Woowww!!!

Orang tua yang pintar!!


ailupika

regards
nasib seorang anak tergantung dari orang tuanya.
Mozart terima kasih^^
[ Read More ]